Bagikan

BI Terus Jaga Stabilitas Nilai Tukar Rupiah

Poin Penting

BI stabilkan rupiah lewat intervensi NDF, DNDF, pasar spot, dan pembelian SBN.
Likuiditas rupiah diperluas dengan penurunan posisi SRBI sepanjang 2025 hingga Januari 2026.
Pelemahan rupiah dipicu faktor domestik dan global, termasuk aliran modal dan penguatan dolar AS.

JAKARTA, investortrust.id - Bank Indonesia (BI) terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Langkah stabilisasi itu dilakukan dengan intervensi di pasar offshore melalui non deliverable forward (NDF) dan intervensi di pasar domestik melalui pasar spot, domesticnon deliverable forward (DNDF), serta pembelian surat berharga negara di pasar sekunder.

“Ekspansi likuiditas rupiah juga ditempuh BI melalui penurunan posisi instrumen moneter SRBI dari Rp 916,97 triliun pada awal tahun 2025 menjadi Rp 730,90 triliun pada akhir tahun 2025, serta berlanjut turun menjadi Rp 694,04 triliun pada 20 Januari 2026,” kata Gubernur BI, Perry Warjiyo, saat pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, yang digelar daring, Rabu (21/1/2026).

Perry mengatakan BI juga membeli SBN sebagai bentuk sinergi erat antara kebijakan moneter dan kebijakan fiskal. Hingga 20 Januari 2026, pembelian SBN yang dilakukan BI mencapai Rp 23,69 triliun.

“Termasuk pembelian di pasar sekunder sebesar Rp 13,21 triliun,” ujar dia.

Perry mengatakan pembelian SBN di pasar sekunder dilakukan sesuai mekanisme pasar, terukur, transparan, dan konsisten dengan program moneter dalam menjaga stabilitas perekonomian sehingga dapat terus menjaga kredibilitas kebijakan moneter.

Baca Juga

Ekonom Prediksi BI Tahan BI Rate 4,75% demi Jaga Stabilitas Rupiah

Sebelumnya diberitakan, BI membeberkan melemahnya rupiah selama dua pekan terakhir. Salah satu penyebab pelemahan rupiah ini yaitu munculnya persepsi pasar terhadap kondisi domestik.

“Persepsi pasar ini terhadap kondisi fiskal dan proses pencalonan deputi gubernur,” kata Perry, saat pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, yang digelar daring, Rabu (21/1/2026).

Perry menegaskan bahwa proses pencalonan deputi gubernur BI telah sesuai undang-undang, tata kelola, dan tidak akan memengaruhi pelaksanaan tugas dan kewenangan BI.

Baca Juga

BI Pertahankan BI Rate di 4,75% pada Januari 2026, Fokus Stabilkan Rupiah

“Tugas dan kewenangan tugas BI yang tetap profesional, dengan tata kelola yang kuat,” kata dia.

Faktor domestik lain, di luar pembentukan persepsi pasar, yang jadi pemantauan BI yaitu aliran modal asing keluar. Tak hanya itu, ada kebutuhan valuta asing atau valas dalam jumlah besar.

“Ada kebutuhan valas yang besar dari sejumlah korporasi termasuk Pertamina, PLN, dan Danantara,” kata dia.

Selain faktor domestik, Perry mengatakan perkembangan nilai tukar ini juga dipengaruhi faktor global. Faktor-faktor global tersebut berhubungan dengan kondisi geopolitik maupun kebijakan tarif Amerika. Tak hanya itu, rupiah melemah karena tingginya imbal hasil US treasury tenor 2 dan 3 tahun di tengah rendahnya kemungkinan FFR turun.

“Juga kondisi-kondisi lain yang menyebabkan dolar menguat dan terjadi aliran modal dari emerging market ke negara maju ke Amerika,” jelas dia.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024