Rupiah Nyaris Tembus Rp 17.000 per US$, Tertekan Permintaan Aset 'Safe Haven'
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah merangsek mendekati posisi Rp 17.000 per US$. Pada Rabu (4/3/2026) pukul 09.03 WIB, rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sebesar -0,35% dan bertengger di posisi Rp 16.931 per US$.
Dolar AS hampir sepenuhnya menguat terhadap mata uang negara-negara mitra dagang Indonesia. Dolar AS menguat terhadap dolar Singapura sebesar 0,10%, baht Tailan sebesar 0,35%, peso Filipina sebesar 0,29%, ringgit Malaysia sebesar 0,04%, rupee India sebesar 0,55%, dan dolar Hongkong sebrsar 0,05%.
Dolar AS hanya melemah terhadap won Korea Selatan sebesar 0,35% dan yen Jepang sebesar 0,09%.
Baca Juga
Rupiah Menguat di Tengah Konflik yang Memanas di Timur Tengah
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro mengatakan imbal hasil US Treasury10 tahun naik 2,49 bps ke 4,06% (-10,8 bps ytd). Aksi serangan antara Iran dan sekutu AS di Timur Tengah memasuki hari keempat, dengan serangan terhadap fasilitas energi di Teluk Persia serta peringatan resmi Iran atas potensi serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.
"Harga minyak dan gas alam melonjak, mendorong kenaikan tajam imbal hasil obligasi pemerintah AS di seluruh tenor dan menekan seluruh sektor industri yang sensitif terhadap kredit," kata Andry, dalam keterangan resminya.
Kontrak berjangka saham AS relatif tidak berubah pada Rabu, setelah Wall Street mengalami volatilitas ekstrem pada sesi sebelumnya, seiring investor memantau perkembangan di Timur Tengah.
Pelaku pasar mencermati kekhawatiran bahwa lonjakan harga energi, yang dipicu oleh eskalasi konflik AS dan Israel dengan Iran, dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi dan mendorong inflasi.
Baca Juga
Rupiah Melemah Terhadap Dolar AS, Imbas Kecamuk Perang Timur Tengah
Pelemahan pasar sempat terpangkas setelah Presiden AS, Donald Trump, berjanji akan mengawal kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz, sehingga meredakan kekhawatiran gangguan pasokan. Dari sisi korporasi, investor menantikan laporan kinerja dari Broadcom, Okta, dan Abercrombie & Fitch sebagai panduan lebih lanjut.
"Permintaan aset safe haven terhadap dolar AS meningkat. Investor juga memandang AS sebagai tempat berlindung yang relatif aman karena tingkat kemandirian energinya yang lebih tinggi, sehingga menopang penguatan mata uang tersebut," ujar dia.
Sementara itu, lonjakan harga energi kembali memicu kekhawatiran inflasi, sehingga pelaku pasar mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed. Pasar kini memperkirakan pemangkasan suku bunga berikutnya oleh Federal Reserve akan terjadi pada September, dari proyeksi sebelumnya pada Juli, meskipun dua kali pemangkasan masing-masing 25 bps masih diperkirakan terjadi pada 2026.

