Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Minyak, OPEC+ Diperkirakan Naikkan Produksi
JAKARTA, investortrust.id – Konflik baru di Timur Tengah yang dipicu gelombang serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran berisiko mendorong lonjakan tajam harga minyak dunia. Dalam situasi ini, Arab Saudi, Rusia, dan enam anggota kunci aliansi OPEC+ diperkirakan mengumumkan kenaikan produksi pada pertemuan virtual, Minggu (1/3/2026).
BSS News melansirn bahwa delapan anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) yang dikenal sebagai “Voluntary Eight” (V8) dijadwalkan menggelar pertemuan sehari setelah AS dan Israel melancarkan serangan berkelanjutan ke Iran.
Kelompok V8 terdiri dari Arab Saudi, Rusia, Irak, Uni Emirat Arab, Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, dan Oman. Tahun lalu, mereka meningkatkan produksi sekitar 2,9 juta barel per hari (bpd) sebelum mengumumkan jeda tiga bulan dalam kenaikan output.
Baca Juga
Iran Konfirmasi Ayatollah Ali Khamenei Tewas usai Serangan AS-Israel
Namun kini situasi berubah drastis. Bahkan sebelum konflik meletus pada Sabtu, pasar telah memasukkan premi risiko geopolitik menyusul peningkatan kehadiran militer AS di kawasan dalam beberapa bulan terakhir.
Harga minyak Brent, acuan global, melonjak lebih dari tiga persen pada Jumat menjadi di atas US$73 per barel, dari posisi US$61 pada awal tahun.
Analis UBS Giovanni Staunovo menyebut sejumlah faktor lain turut menekan pasokan sejak awal Januari, termasuk cuaca dingin di AS yang menyebabkan penghentian produksi sementara, gangguan di Rusia akibat serangan drone, serta pemadaman listrik di Kazakhstan yang mengganggu produksi dari ladang minyak Tengiz.
Baca Juga
Garda Revolusi Iran Klaim 200 Personel Tewas dan Terluka dalam Serangan ke Pangkalan AS
Sebelum serangan Sabtu, pasar telah mengantisipasi kenaikan kuota produksi sebesar 137.000 barel per hari. Analis Kpler Homayoun Falakshahi mengatakan harga yang relatif tinggi menjadi insentif bagi OPEC+ untuk melanjutkan peningkatan produksi mulai April.
Meski demikian, sebelum akhir pekan Falakshahi menilai serangan AS ke Iran belum tentu mengubah keputusan OPEC+, karena kelompok tersebut kemungkinan menunggu dan menilai dampak konflik terhadap arus pasokan sebelum menambah minyak lebih banyak dari rencana awal.
Blokade Selat Hormuz
Dalam jangka pendek, serangan AS diperkirakan memicu lonjakan besar harga minyak, dengan arah selanjutnya sangat bergantung pada eskalasi konflik.
Iran merupakan produsen minyak signifikan, namun risiko utama adalah potensi blokade Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar 20 juta barel minyak mentah per hari atau sekitar 20 persen produksi global. Hampir tidak ada alternatif transportasi minyak mentah selain jalur tersebut.
Arab Saudi dan Uni Emirat Arab memiliki jaringan pipa dengan kapasitas maksimal 2,6 juta barel per hari yang memungkinkan pengiriman tanpa melalui Selat Hormuz, menurut data US Energy Information Administration.
Baca Juga
Netanyahu Klaim Khamenei Tewas, Iran Tegaskan Pemimpin Tertinggi Dalam Keadaan Sehat
Ekonom pasar berkembang Capital Economics, William Jackson, memperkirakan harga Brent dapat naik ke sekitar US$80 per barel, mendekati puncak saat perang 12 hari pada Juni 2025, dari posisi US$73 per barel sebelumnya. Namun jika konflik berkepanjangan dan Selat Hormuz diblokade dalam waktu lama, harga bisa melonjak hingga sekitar US$100 per barel.
Jika OPEC+ menyetujui kenaikan produksi 137.000 barel per hari, dampaknya terhadap harga diperkirakan terbatas. Berdasarkan estimasi Kpler, kenaikan riil kemungkinan hanya sekitar 80.000 hingga 90.000 barel per hari.

