Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan Biaya Logistik Sawit hingga 50%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Konflik geopolitik di Timur Tengah mulai memengaruhi rantai pasok perdagangan minyak sawit global. Biaya pengiriman dan asuransi ekspor sawit dilaporkan melonjak hingga sekitar 50%.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Eddy Martono mengatakan, gangguan logistik terjadi terutama pada jalur pelayaran menuju Timur Tengah. Kondisi tersebut berkaitan dengan meningkatnya risiko keamanan di kawasan Selat Hormuz.
“Freight and insurance itu naik sampai 50% rata-rata,” kata Eddy dalam konferensi pers Gapki di Jakarta, Kamis (12/3/2026).
Menurut Eddy Martono, ekspor sawit Indonesia ke kawasan Timur Tengah mencapai 1,83 juta ton. Namun jalur distribusi ke wilayah tersebut kini menjadi salah satu yang paling terdampak konflik regional.
Baca Juga
Indonesia Lanjutkan Proses Sengketa Minyak Sawit dengan Uni Eropa di WTO
Eddy menjelaskan, sebagian kapal masih mencoba melewati Terusan Suez untuk menuju pasar Eropa. Namun, risiko keamanan membuat premi asuransi kapal meningkat tajam.
Banyak operator pelayaran akhirnya memilih memutar rute melalui Cape Town di Afrika Selatan. Jalur ini membuat perjalanan lebih panjang dan meningkatkan konsumsi bahan bakar kapal.
“Kalau lewat Cape Town juga sama karena bahan bakarnya naik, sehingga biaya logistik ikut meningkat,” ujar Eddy.
Baca Juga
Kapal Tanker Hadapi Ancaman di Selat Hormuz, Harga Minyak Melonjak Lebih 4%
Meski menghadapi tekanan biaya, kata Eddy Martono, ekspor sawit Indonesia tetap berjalan. Industri sawit masih mampu bertahan menghadapi gangguan geopolitik global.
Gapki menilai ketahanan tersebut menunjukkan pentingnya sektor sawit bagi ekonomi nasional. Komoditas ini tidak hanya menjadi sumber devisa, tetapi juga penopang rantai industri pangan dan energi.
"Harapannya tentu perang di Timur Tengah itu tidak berkepanjangan agar industri sawit tetap menjadi sektor penting untuk menyelamatkan (apabila) terjadi krisis ekonomi," tutur dia.

