Rupiah Terdepresiasi 44 Poin, Melemah ke Rp16.886 per Dolar AS
JAKARTA, investortrust.id – Nilai tukar rupiah terpantau melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (6/2/2026). Pada pukul 09.32 WIB, rupiah terdepresiasi 44 poin atau turun 0,26% ke level Rp16.886 per dolar AS.
Pelemahan rupiah terjadi seiring penguatan indeks dolar AS (DXY). Berdasarkan pantauan Bloomberg, DXY naik 0,03% ke posisi 97,85.
Penguatan dolar AS turut menekan sejumlah mata uang kawasan. Yuan China melemah 0,03% dan ringgit Malaysia turun 0,09%. Di sisi lain, beberapa mata uang justru menguat, seperti rupee India naik 0,07%, yen Jepang menguat 0,17%, peso Filipina naik 0,15%, dolar Singapura menguat 0,13%, serta baht Thailand melonjak 0,37%. Selain itu, euro Uni Eropa naik 0,09% dan poundsterling Inggris menguat 0,11%.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Turun Rp 100.000, Waktunya Serok atau Tunggu?
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun turun 9,34 basis poin ke level 4,18%, terendah dalam hampir tiga pekan. Penurunan tersebut dipicu rilis sejumlah data ketenagakerjaan AS yang lemah dan memperkuat prospek pemangkasan suku bunga Federal Reserve lebih dari satu kali tahun ini.
Data Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) menunjukkan jumlah lowongan kerja AS turun ke level terendah dalam lima tahun pada Desember 2025. Sementara itu, laporan Challenger mencatat pemutusan hubungan kerja (PHK) Januari menjadi yang tertinggi sejak 2009. Klaim pengangguran awal juga melonjak jauh di atas ekspektasi ke level tertinggi dalam dua bulan terakhir.
Sentimen kehati-hatian turut diperkuat oleh laporan Automatic Data Processing (ADP) yang menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja sektor swasta jauh di bawah perkiraan. Kondisi ini memperkuat ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga The Fed, dengan penurunan pertama masih diperkirakan pada Juni dan potensi penurunan kedua pada September 2026.
Baca Juga
IHSG Dibuka Tergerus 200 Poin, Sebaliknya Saham Lapis Tiga Ini Perkasa
Di sisi lain, Departemen Keuangan AS mempertahankan panduan penerbitan obligasi untuk kuartal mendatang, dengan porsi surat utang jangka pendek (T-bills) yang lebih besar dibanding obligasi jangka panjang, guna mengelola biaya pembiayaan di tengah suku bunga yang masih tinggi.
Jumlah lowongan kerja di AS tercatat turun 386 ribu menjadi 6,542 juta pada Desember 2025, terendah sejak September 2020 dan jauh di bawah ekspektasi pasar sebesar 7,2 juta. Penurunan terjadi pada sektor jasa profesional dan bisnis, perdagangan ritel, serta keuangan dan asuransi.
Klaim pengangguran awal AS meningkat 22.000 menjadi 231.000 pada pekan terakhir Januari 2026, jauh di atas perkiraan pasar 212.000 dan menjadi level tertinggi dalam hampir dua bulan. Klaim lanjutan juga naik 25.000 menjadi 1.844.000. Kenaikan klaim ini dikaitkan dengan gangguan aktivitas bisnis akibat badai musim dingin di sejumlah wilayah AS.
Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga datang dari sentimen eksternal setelah Moody’s menurunkan prospek peringkat kredit Indonesia menjadi negatif. Moody’s menyebutkan penurunan prospek tersebut mencerminkan melemahnya prediktabilitas kebijakan dan risiko terhadap efektivitas kebijakan, beberapa hari setelah MSCI menyoroti isu transparansi yang memicu gejolak pasar bernilai lebih dari US$80 miliar.

