Tekanan Global Bayangi Rupiah dan Mata Uang Asia
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Rupiah melemah 0,09% ke level Rp 16.844 per dolar AS pada Rabu (25/02/2026) pukul 09.07 WIB di tengah bertahannya indeks dolar AS di kisaran 97,8 dan meningkatnya kehati-hatian pasar global terhadap arah kebijakan perdagangan Amerika Serikat (AS) serta perlambatan sejumlah data ekonomi Negeri Paman Sam.
Data PT Bank Mandiri Tbk, bank pelat merah dengan jaringan terbesar di Indonesia, menunjukkan indeks dolar AS atau dollar index (DXY) bertahan di kisaran 97,8. Posisi tersebut mendekati level tertinggi dalam satu bulan terakhir, seiring pelaku pasar menilai ulang dampak kebijakan perdagangan AS terhadap neraca pembayaran global.
Baca Juga
Pelemahan terhadap dolar AS juga dialami rupee India yang turun 0,07% dan ringgit Malaysia yang melemah 0,03%. Namun, pergerakan mata uang global cenderung beragam. Yuan China menguat 0,07%, yen Jepang naik 0,12%, dan dolar Hong Kong terapresiasi 0,02% terhadap greenback.
Dua mata uang utama Eropa juga mencatat penguatan. Euro naik 0,07% dan poundsterling Britania Raya menguat 0,13% terhadap dolar AS. Dari kawasan Asia Tenggara, dolar Singapura terapresiasi 0,05%, peso Filipina naik 0,12%, dan baht Thailand menguat 0,06%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun turun 0,19 basis poin menjadi 4,03%. Level tersebut merupakan yang terendah dalam hampir tiga bulan terakhir. "Penurunan yield mencerminkan meningkatnya minat investor pada aset aman di tengah ketidakpastian global," kata dia.
Menurut Andry, turunnya yield terjadi seiring kekhawatiran baru terhadap potensi disrupsi kecerdasan buatan atau artificial intelligence terhadap pasar tenaga kerja dan produktivitas, serta ketidakpastian kebijakan perdagangan Gedung Putih. Kondisi ini mendorong investor mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih stabil.
Baca Juga
Di sisi fundamental ekonomi, Indeks Harga Rumah S&P CoreLogic Case-Shiller 20 Kota AS naik 1,4% secara tahunan pada Desember 2025, sejalan dengan laju November dan ekspektasi pasar. Namun, pertumbuhan tahunan harga rumah tetap mendekati level terlemah dalam lebih dari dua tahun, menandakan pasar properti AS masih mengalami pendinginan. “Kenaikan harga rumah juga tertinggal dari inflasi konsumen yang tercatat 2,7% pada Desember 2025,” ujar Andry.
Selain itu, pesanan baru barang manufaktur di AS turun 0,7% secara bulanan menjadi US$ 617,5 miliar pada Desember 2025 dari US$ 621,9 miliar pada bulan sebelumnya. Angka ini relatif sejalan dengan ekspektasi pasar yang memperkirakan kontraksi 0,5%, sekaligus mengindikasikan perlambatan aktivitas sektor industri.

