Rupiah Terdepresiasi ke Level Rp 16.800 per Dolar AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), rupiah tersungkur di level Rp 16.800 per dolar AS pada penutupan perdagangan Senin (2/2/2026).
Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan pergerakan nilai tukar rupiah dipengaruhi keputusan Presiden AS, Donald Trump menominasikan mantan gubernur the Fed, Kevin Warsh sebagai pilihannya untuk menggantikan ketua petahana Jerome Powell di pucuk pimpinan bank sentral.
Warsh sebagian besar dianggap setuju dengan seruan Trump untuk menurunkan suku bunga secara tajam. Namun, dia juga dipandang kritis terhadap aktivitas pembelian aset the Fed, yang menunjukkan bahwa kebijakan moneter jangka panjang di bawah Warsh mungkin tidak selunak yang diantisipasi pasar pada awalnya.
Namun, Warsh mungkin akan menekankan kelemahan pasar tenaga kerja sebagai risiko yang lebih besar terhadap mandat the Fed untuk mencapai lapangan kerja maksimal dan stabilitas harga dan kemungkinan akan mendukung lebih banyak penurunan suku bunga jika dikonfirmasi dalam beberapa bulan mendatang. Masa jabatan Powell berakhir pada bulan Mei. Ketua Fed pekan lalu mendesak penggantinya untuk tidak terjebak dalam politik pemilihan.
Baca Juga
Rupiah Kembali Terdepresiasi, Imbas Calon Pengganti Ketua The Fed
Di dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus secara kumulatif pada Januari - Desember 2025 sebesar US$ 41,05 miliar. Surplus ini lebih besar dibandingkan dengan tahun 2024, sebesar US$ 31,04 miliar.
BPS juga melaporkan laju inflasi tahun ke tahun, pada Januari 2026 tercatat mencapai 3,55%. Artinya, terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 105,99 pada Januari 2025 menjadi 109,75 pada Januari 2026.
Alasan data inflasi tahunan dan bulanan pada Januari 2026 berbanding terbalik. Seperti diketahui, data tahunan tercatat Januari mengalami inflasi mencapai 3,55%, sementara secara bulanan malah mengalami deflasi 0,15%. Inflasi tinggi pada Januari 2026 secara yoy dipengaruhi dampak basis angka yang rendah pada periode yang sama tahun sebelumnya atau low base effect.

