Rupiah Ditutup Menguat, Bertengger di Rp 16.723 per US$
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah ditutup menguat terhadap dolar AS pada Rabu (28/1/2026). Rupiah bertengger di posisi Rp 16.723 per US$ berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR). Rupiah menguat 0,46% dibandingkan penutupan Selasa (27/1/2026) yang sebesar Rp 16.801 per US$.
Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan eskalasi perang dagang, yang sekarang terjadi antara AS dan Korea Selatan, meluas ke pasar keuangan. Ancaman Presiden AS, Donald Trump untuk memberlakukan tarif 25% pada barang-barang dari Seoul mendorong nilai tukar dolar AS melemah.
Di saat yang sama, kekhawatiran akan penutupan pemerintahan AS lainnya semakin meningkat, dengan para anggota parlemen menghadapi tenggat waktu pendanaan pada 30 Januari. Dengan latar belakang ini, logam mulia terus menarik aliran safe haven.
Baca Juga
Rupiah Menguat Terhadap Dolar AS, Bertengger di Posisi Rp 16.735 per US$
Trump mengatakan, pada hari Selasa, bahwa dia hampir menunjuk pilihannya untuk ketua Fed berikutnya setelah Jerome Powell. Suku bunga akan turun dengan kepemimpinan baru di bank sentral. Perselisihan Trump dengan the Fed juga memberikan dukungan kepada emas, terutama karena investor khawatir tentang independensi bank sentral di tengah tekanan politik yang terus berlanjut.
Di sisi geopolitik, ketegangan AS-Iran muncul kembali setelah laporan bahwa kapal induk Angkatan Laut AS USS Abraham Lincoln dan kapal perang yang menyertainya telah tiba di Timur Tengah, memicu kekhawatiran tentang kemungkinan peningkatan ketegangan dengan Iran. Pejabat Iran telah memperingatkan akan adanya pembalasan jika AS mengambil tindakan militer.
Baca Juga
Rupiah Still Undervalued as Peer Pressure Deepens Early 2026
Fokus pasar hari ini adalah keputusan suku bunga Federal Reserve (Fed) yang akan diumumkan pada Kamis dini hari pukul 02.00 WIB. Pasar sepenuhnya telah memperkirakan bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tidak berubah pada kisaran 3,50%-3,75% pada pertemuannya bulan Januari ini.
Perhatian selanjutnya akan beralih ke konferensi pers Ketua Jerome Powell pasca-pertemuan pada pukul 02.30 WIB untuk panduan baru tentang jalur kebijakan moneter, dengan para pedagang saat ini memperkirakan sekitar dua kali pemotongan suku bunga hingga akhir tahun ini.
Di dalam negeri pasar Surat Berharga Negara (SBN) mencatatkan perbaikan kinerja dengan penurunan yield SBN 10 tahun ke level 6,41%. Angka ini turun signifikan dibandingkan posisi akhir tahun 2024 yang sempat berada di atas 7%, mencerminkan tingginya kepercayaan investor terhadap tata kelola fiskal Indonesia.

