Gubernur BI Sebut Rupiah Masih 'Undervalued'
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan bahwa posisi rupiah saat ini masih di bawah dari nilai fundamental. Meski dalam beberapa hari terakhir, rupiah menunjukkan penguatan.
“Apakah BI melihat nilai tukar rupiah saat ini masih undervalued? Ya,” kata Perry, saat konferensi pers Hasil Rapat Berkala KSSK I-2026, di kantor Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Jakarta, Selasa (27/1/2026).
Perry mengatakan nilai tukar yang melemah beberapa pekan lalu karena faktor teknikal, yaitu sentimen jangka pendek.
“Secara fundamental, nilai tukar rupiah itu akan menguat,” kata dia.
Indikator fundamental yang dimaksud Perry yaitu inflasi yang rendah dan pertumbuhan ekonomi yang membaik. Tak hanya itu, Perry menyebut imbal hasil investasi di Tanah Air yang menarik.
“Dan tentu saja komitmen Bank Indonesia untuk menstabilkan rupiah dan mengarahkan rupiah ke arah yang lebih kuat,” jelas dia.
Baca Juga
Rupiah Melemah di Hadapan Dolar AS, Terseret ke Rp 16.801 per US$
Bos bank sentral mengatakan upaya mempertahankan suku bunga kebijakan pada bulan Oktober, November, dan Desember 2025, serta Januari 2026 pada level 4,75% sejalan dengan upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak meningkatnya ketidakpastian global, memperkuat efektivitas transmisi pelonggaran kebijakan moneter, dan kebijakan makroprudensial guna mendukung pencapaian sasaran inflasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Ke depan, BI akan terus mencermati ruang penurunan suku bunga BI Rate lebih lanjut dengan perkiraan inflasi 2026-2027 yang terkendali dalam sasaran 2,5% plus minus 1%, serta perlunya untuk turut mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi,” ujar dia.
Tak hanya itu, menurut Perry, BI juga akan meningkatkan intensitas langkah-langkah untuk stabilisasi nilai tukar Rupiah melalui intervensi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri, maupun intervensi di pasar dalam negeri melalui transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) serta pembelian SBN di pasar sekunder.
“BI terus memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah melalui pengelolaan struktur suku bunga instrumen moneter dan swap valas untuk menjaga daya tarik aliran masuk portofolio asing ke aset keuangan domestik,” kata dia.
Selain itu, BI akan memperluas instrumen operasi moneter valuta asing dengan instrumen spot dan swap dalam bentuk dolar AS, yuan China, dan yen Jepang terhadap rupiah yang terintegrasi. Proses ini dilakukan dengan pengembangan pasar uang dan pasar valas untuk mendukung penguatan Local Currency Transaction (LCT).
Pada tanggal 26 Januari 2026, rupiah sempat ditutup menguat menjadi Rp 16.770 per US$.
“Seperti tadi kami sampaikan, ke depan kami memperkirakan rupiah akan cenderung menguat sejalan dengan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah oleh Bank Indonesia dan fundamental ekonomi Indonesia yang lebih baik,” kata dia.

