Rupiah Menguat Terhadap Dolar AS, Bertengger di Posisi Rp 16.735 per US$
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu (28/1/2026) pukul 09.28 WIB. Posisi rupiah menguat 0,20% terhadap dolar AS dan bertengger di posisi Rp 16.735 per US$.
Sejumlah mata uang menguat terbatas, meski indeks dolar AS atau DXY bergerak melemah ke level 96,13.
Selain rupiah, mata uang yang mengalami apresiasi terhadap dolar AS yaitu yuan China dengan menguat sebesar 0,09%, rupee India dengan menguat sebesar 0,25%, dan peso Filipina yang menguat 0,35%. Ringgit Malaysia dan won Korea Selatan juga menguat, masing-masing sebesar 0,73% dan 0,45%. Dolar Singapura juga bergerak menguat tipis di 0,01%.
Mata uang mitra dagang utama Indonesia lainnya, seperti yen Jepang, euro Uni Eropa, dan poundsterling Britania Raya terdepresiasi terhadap dolar AS. Yen terkoreksi 0,45%, euro terdepresiasi 0,39%, dan poundsterling terkoreksi 0,35%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro mengatakan investor bersiap menjelang keputusan kebijakan terbaru Federal Reserve serta padatnya rilis kinerja keuangan perusahaan teknologi besar.
Baca Juga
Rupiah Melemah di Hadapan Dolar AS, Terseret ke Rp 16.801 per US$
The Fed secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan, dengan pasar lebih mencermati panduan terkait waktu pemangkasan suku bunga berikutnya di tengah ekspektasi dua kali pemotongan masing-masing 25 bps sebelum akhir tahun.
DXY turun untuk sesi keempat berturut-turut pada Selasa, merosot ke 96,2 dan merupakan level terendah sejak Februari 2022, seiring investor bersiap jelang keputusan kebijakan moneter The Fed yang dijadwalkan Rabu malam ini. Spekulasi kian menguat bahwa ketua The Fed yang baru dapat diumumkan paling cepat pekan ini. Presiden AS, Donald Trump secara luas diperkirakan akan menominasikan kandidat yang lebih dovish.
Dolar AS juga tertekan oleh kembali munculnya kekhawatiran penutupan pemerintahan setelah para pemimpin Partai Demokrat mengancam akan memblokir paket pendanaan senilai US$ 1,2 triliun jika mencakup tambahan alokasi untuk Keamanan Dalam Negeri.
Greenback terseret dalam arus perdagangan global “sell America” yang lebih luas, seiring spekulasi potensi intervensi mata uang bersama AS-Jepang untuk menahan pelemahan lebih lanjut pada obligasi Jepang dan menopang nilai yen.

