Rupiah Menguat 0,36% Bertengger di Posisi Rp 16.963 per US$
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah menguat 0,36% terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (22/1/2026), dibandingkan sesi Rabu (21/1/2026) menurut Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR). Dengan penguatan ini, rupiah bertengger di posisi Rp 16.902 per US$.
Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan berkurangnya tekanan Presiden AS, Donald Trump dan mengumumkan kerangka kesepakatan terkait Greenland.
Trump juga mengatakan bahwa penggunaan kekuatan militer tidak akan dilakukan. Harga emas ditutup di level US$ 4.830, naik sebesar 1.4%.
Dalam pidatonya di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, Trump menahan diri untuk tidak menyebutkan tarif atau tindakan militer atas Greenland. Meskipun demikian, dia memperingatkan bahwa jika ia tidak mendapatkan kesepakatan mengenai Greenland, ia akan mempertimbangkan tanggapan Eropa terhadap tuntutannya.
Sementara itu Bloomberg melaporkan bahwa Trump mengatakan dia akan mundur dari pemberlakuan tarif pada barang-barang dari negara-negara Eropa yang menentang upayanya untuk mengambil alih Greenland. Dia menambahkan bahwa Amerika Serikat dan Organisasi Pakta Atlantik Utara (NATO) telah "membentuk kerangka kesepakatan masa depan sehubungan dengan Greenland." Meski Trump tidak merinci parameter dari apa yang disebut "kerangka kerja," dan tidak jelas apa isi kesepakatan tersebut.
Baca Juga
Menteri Keuangan Jerman, Lars Klingbeil memperingatkan terhadap optimisme prematur setelah Trump menarik kembali ancaman untuk mengenakan tarif sebagai alat tawar-menawar untuk merebut Greenland. Tanda-tanda peningkatan kembali ketegangan antara AS dan Uni Eropa.
Hari ini fokus pasar akan tertuju pada rilis angka Produk Domestik Bruto (PDB), Klaim Pengangguran Awal, dan ukuran inflasi pilihan Fed, Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi Inti (PCE).
Dari dalam negeri, pasar optimis, pemerintah mampu mengatasi praktik under invoicing impor dan ekspor, bisa menutup defisit anggaran negara. Praktik ilegal tersebut sudah terjadi secara struktural, sebab melihat nominalnya yang besar hingga ribuan triliun.
Ibrahim menjelaskan andai saja mampu menggaet 30% dari kerugian akibat under invoicing ekspor, pemerintah mampu menutup defisit anggaran negara. Under invoicing ekspor turut menjadi penyebab shortfall penerimaan negara. Ini diyakini terjadi shortfall penerimaan negara pada tahun lalu yang didorong salah satunya oleh under invoicing ekspor.
Isu under invoicing ekspor sebenarnya sudah lama terjadi, namun baru ramai akhir-akhir ini setelah terjadi defisit anggaran dalam APBN yang mendekati 3 persen tahun 2025 sehingga membuat mata uang rupiah terus terkontraksi.

