Ekonom Prediksi BI Tahan BI Rate 4,75% demi Jaga Stabilitas Rupiah
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Sejumlah ekonom memprediksi Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate level 4,75% hingga akhir 2025. Kebijakan ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro memprediksi, BI akan cenderung menahan BI Rate pada level 4,75%. Menurutnya, stabilitas nilai tukar menjadi pertimbangan utama BI guna mendukung dunia usaha agar tumbuh lebih stabil.
Baca Juga
Debut Perdana, Saham Superbank (SUPA) Dibuka Langsung ARA ke Rp 790
“Karena BI akan mendorong stabilitas nilai tukar, sebagai bagian dukungan untuk dunia usaha agar bisa tumbuh lebih stabil,” kata Andry kepada investortrust.id, Rabu (17/12/2025).
Sementara itu, ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai ruang penurunan suku bunga sebenarnya masih terbuka. Namun, untuk menjaga stabilitas rupiah, BI diperkirakan tetap memilih menahan BI Rate.
“Namun, jika menjelang pengumuman hasil RDG kondisi rupiah mampu berbalik arah secara signifikan, maka bisa saja BI kembali shifting dari stance menjaga stabilitas dalam jangka pendek menjadi kembali ke pro-pertumbuhan dan memotong BI Rate 25 basis poin (bps) menjadi 4,50%,” ujar Josua.
Baca Juga
Josua menjelaskan, peluang penurunan BI Rate masih didukung oleh kebijakan The Fed yang telah memangkas suku bunga serta sikap dovish pada FOMC Desember 2025. Dari dalam negeri, inflasi yang terjaga dalam target BI sebesar 1,5–3,5% dan berlanjutnya surplus perdagangan juga menjadi faktor pendukung.
Namun demikian, sikap investor global yang masih cenderung risk-off dan wait and see berdampak pada arus modal serta pergerakan rupiah yang masih bergerak sideways. Selain itu, perubahan regulasi di akhir tahun, termasuk aturan terkait Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA), turut meningkatkan ketidakpastian.
Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) Teuku Riefky juga menilai fluktuasi rupiah menjadi alasan BI menahan suku bunga acuan.
Baca Juga
Saham Emiten Grup Bakrie Melejit MDIA hingga BNBR Tertinggi, Bangkit dan Incaran Pemodal Kini
“Pemotongan suku bunga oleh BI berisiko memicu naiknya tekanan inflasi dan berpotensi mendorong pelemahan nilai tukar rupiah,” kata Riefky.
Menurutnya, keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) November 2025 menjadi sinyal kepada investor bahwa bank sentral memprioritaskan stabilitas rupiah.
“Langkah kebijakan yang diambil BI mengirimkan sinyal yang cenderung positif kepada investor bahwa bank sentral memprioritaskan mandat utamanya untuk mengendalikan nilai rupiah ketimbang melanjutkan fokus pada pertumbuhan ekonomi melalui pemotongan suku bunga kebijakan,” ujarnya.

