Ini Alasan Purbaya Tak Potong Belanja Demi Jaga Defisit
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan pemerintah membiarkan defisit mencapai 2,92% dari PDB atau menembus outlook APBN 2025.
“Pasti ada yang nanya kenapa nggak dipotong belanjanya? Supaya defisitnya tetap kecil,” kata Purbaya, saat konferensi pers APBN KiTA, di kantornya, Jakarta, Kamis (8/1/2026).
Menurut Purbaya, kondisi ekonomi sedang mengalami penurunan. Untuk itu, pemerintah perlu memberikan stimulus ke perekonomian.
“Ini komitmen pemerintah untuk menjaga ekonomi tetap tumbuh secara berkesinambungan, tanpa membahayakan APBN,” kata dia.
Upaya tak memotong anggaran itu terlihat dari belanja Kementerian/Lembaga (K/L) yang tembus 129,3% dari target. Angka ini melonjak dari target belanja K/L yang semula sebesar Rp 1.160,1 triliun pada desain awal dan target Rp 1.275,6 triliun pada outlook APBN.
Baca Juga
Wow! Defisit APBN 2025 Lampaui Outlook, Tembus 2,92% dari PDB
Sementara itu, di tengah belanja yang besar, penerimaan negara mengalami kontraksi. Penerimaan perpajakan tak mencapai target dan mengalami shortfall.
Berdasarkan paparan, Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara menjelaskan pemerintah memberikan empat paket stimulus selama 2025.
“Ini adalah antisipatif dan responsif terhadap kondisi perekonomian. Kalau perekonomian sedang membutuhkan, ya kita on top, yang dianggarkan dalam APBN kita lakukan stimulus fiskal,” ujar dia.
Sebagai catatan, pada tahun lalu pemerintah telah melansir sejumlah program stimulus. Paket stimulus I yang dilakukan Januari-Februari 2025, dilakukan untuk menjaga daya beli masyarakat dan dunia usaha. Nilai stimulusnya mencapai Rp 33,3 triliun.
Paket stimulus II, dilakukan Juni-Juli 2025, ditujukan untuk mendorong konsumsi dalam negeri dengan cara mengeluarkan dana Rp 24,4 triliun. Sementara pada September 2025, terdapat stimulus III untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dengan anggaran Rp 15,6 triliun.
Terakhir, pada Oktober-Desember 2025 diberikan stimulus untuk menjaga daya beli, mendorong aktivitas ekonomi, dan pemberdayaan generasi muda dengan anggaran Rp 37,4 triliun. Total, empat stimulus tersebut mencapai Rp 110,7 triliun.

