Wow! Defisit APBN 2025 Lampaui Outlook, Tembus 2,92% dari PDB
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memaparkan kondisi APBN 2025. Pada tutup tahun ini, defisit APBN 2025 berada di atas outlook APBN 2025 yang sebesar 2,78% dari PDB, yaitu sebesar 2,92% dari PDB. Angka ini juga naik dari APBN awal yang menetapkan target defisit sebesar 2,53% dari PDB.
“Defisit membesar ke Rp 695,1 triliun, itu lebih tinggi dari (outlook) APBN yang Rp 662 triliun,” kata Purbaya, saat konferensi pers APBN KiTA, di kantornya, Jakarta, Kamis (8/1/2026).
Berdasarkan paparannya, pendapatan negara mencapai Rp 2.756,3 triliun. Ini pun tak sesuai outlook dengan capaian 91,7% dari target APBN.
Pendapatan perpajakan sebesar Rp 2.217,9 triliun. Dari penerimaan perpajakan ini penerimaan pajak hanya Rp 1.917,6 atau 87,6% dari target. Penerimaan dari kepabeanan dan cukai berada di sekitar Rp 300,3 triliun atau 99,6% dari target.
Penerimaan Negara Bukan Pajak atau PNBP mencapai Rp 534,1 triliun atau 104% dari target. Penerimaan hibah sebesar Rp 4,3 triliun atau 733,3% dari target.
Baca Juga
Risiko 'Shortfall' Pajak 2026 Berpotensi Dongkrak Penerbitan SBN di Atas Target APBN
Sementara itu, belanja negara mencapai Rp 3.451,4 triliun yang mana ini 95,3% dari target. Belanja pemerintah pusat mencapai Rp 2.602,3 triliun atau 96,3% dari target.
Belanja kementerian/lembaga (K/L) menembus 129,3% dari target atau mencapai Rp 1.500,4 triliun. Sementara itu, belanja non-K/L mencapai Rp 1.102 atau 71,5% dari target.
Purbaya mengatakan dalam kondisi volatile 2025, APBN menjadi instrumen kebijakan yang antisipatif dan responsif, menghadapi perkembangan dinamika global dan domestik. Walaupun defisit membesar, kata dia, pemerintah akan tetap menjaga dan memastikan bahwa defisit tidak lebih dari 3% dari PDB.
“Ini tadi dengan misi untuk tetap menjaga ekonomi tetap bisa berekspansi di tengah tekanan ekonomi global yang tinggi,” ujar dia.
Kondisi ini, kata Purbaya, merupakan langkah counter cyclical yang kerap disebutnya.
“Saya bisa buat nol defisitnya, saya potong anggarannya, tapi ekonominya morat-marit,” kata dia.

