Prospek Ekonomi 2026 Lebih Cerah, Berbagai Risiko Sudah “Price In”
Poin Penting
| ● | Risiko ekonomi 2026 dinilai sudah price in pada indikator 2025, sehingga prospeknya lebih cerah |
| ● | Fundamental ekonomi tetap kuat dengan inflasi terkendali, konsumsi di atas indeks 300, serta investasi Januari–September 2025 mencapai Rp 1.434 triliun. |
| ● | Airlangga optimistis 2026 hanya menyisakan upside risk, dengan potensi pertumbuhan PDB lebih tinggi dari baseline 5,04%. |
JAKARTA, investortrust.id – Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto mengungkapkan, prospek perekonomian 2026 lebih cerah. Berbagai risiko yang akan muncul tahun depan sudah masuk kalkulasi dan tecermin (price in) pada indikator-indikator ekonomi tahun ini, seperti suku bunga, inflasi, dan nilai tukar rupiah.
Airlangga mencontohkan, laju inflasi sebesar 2,86% secara tahunan (year on year/yoy) pada Oktober 2025 masih sesuai target 2,5% plus minus 1% yang dipatok pemerintah dan Bank Indonesia (BI).
“Ini dipengaruhi konsistensi kebijakan suku bunga BI (BI-Rate) dan dorongan insentif fiskal pemerintah dalam melakukan ekspektasi inflasi,” kata Airlangga, yang juga Ketua Pengendali Inflasi Pusat dan Daerah, pada Pertemuan Tahunan BI di Jakarta, Jumat (28/11/2025).
Baca Juga
Pengamat Sebut Target Purbaya Capai Pertumbuhan Ekonomi 6% Realistis, Asal..
Dalam APBN 2026, asumsi pertumbuhan ekonomi dipatok 5,4%, inflasi 2,5%, dan kurs rupiah Rp 16.500 per dolar AS. Sedangkan suku bunga Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun ditetapkan 6,9%, harga minyak mentah Indonesia (ICP) US$ 70 per barel, lifting minyak bumi 610 ribu bph, dan lifting gas gumi 984 ribu bsmp.
.
Menurut Airlangga Hartarto, pertumbuhan fundamental dan tren pertumbuhan ekonomi nasional menunjukkan tren positif. Ini ditunjukkan oleh meningkatnya konsumsi masyarakat.
Mengutip Mandiri Spending Index, Airlangga menyebut konsumsi masyarakat mencapai 312, di atas basis angka 300. “Ini tren positif yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi lebih berkelanjutan,” ujar dia.
Selain itu, kata Airlangga, tren investasi terus membaik. Pada Januari-September 2025, realisasi investasi mencapai Rp 1.434 triliun, tumbuh 13,7% (yoy).
“Ke depan peran investasi Danantara akan mulai terasa,” tegas dia.
Menko Perekonomian juga membeberkan tren belanja pemerintah yang terus bertumbuh. Realisasi belanja pemerintah mencapai Rp 1.109 triliun per 24 November 2025. Program prioritas presiden telah mencapai Rp 213 triliun.
Baca Juga
Bank DBS Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Capai 5,2% di Tahun 2026
Berdasarkan indikator-indikator tersebut, menurut Airlangga Hartarto, hampir seluruh risiko pertumbuhan ekonomi 2026 telah dikelola dan terserap pada 2025.
“Jadi, Pak Presiden, risiko yang akan muncul seluruhnya sudah price in, sudah masuk ke dalam tingkat suku bunga dan harga-harga, termasuk rupiah tahun ini,” tutur dia.
Airlangga mengungkapkan, pada 2026 hanya tersisa upside risk. Dengan baseline pertumbuhan ekonomi sebesar 5,04% pada kuartal III-2025, Airlangga optimistis pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) dapat melaju lebih tinggi pada kuartal-kuartal berikutnya.
“Jadi, kami berharap dan optimistis tahun depan akan lebih baik dari tahun ini,” tandas dia.

