Mirae Asset: Prospek Nippon Indosari Corpindo (ROTI) Lebih Cerah pada Semester II
JAKARTA, investortrust.id – Mirae Asset Sekuritas Indonesia (Mirae Asset) memperkirakan kinerja keuangan PT Nippon Indosari Corpindo (ROTI) lebih kinclong pada semester II-2024 sejalan dengan tumbuhnya penjualan perseroan. Prospek sahamnya pun diprediksi lebih cerah.
Membaiknya penjualan emiten roti itu bakal didorong sejumlah faktor, seperti kembalinya anak-anak sekolah dan penyelesaian fasilitas di Pekanbaru.
“Kami percaya pada semester II ini general trade (GT) bisa berkontribusi lebih tinggi karena produktivitas harus dimulai,” kata Equity Research Mirae Asset, Abyan H Yuntoharjo dalam risetnya, Kamis (5/9/2024).
Abyan menjelaskan, fasilitas di Pekanbaru bisa mendongkrak margin Nippon Indosari. Soalnya, biaya logistik dan tingkat pengembalian kemungkinan turun akibat efisiensi.
Nippon Indosari mencatatkan pendapatan bersih Rp 71 miliar pada kuartal II-2024, turun 4% secara kuartalan (quarter to quarter/q to q) yang dipicu momentum Ramadan dan Lebaran. Sedangkan secara kumulatif, pendapatan perseroan selama semester I-2024 mencapai Rp 145 miliar, naik 21,8% dibanding periode sama tahun silam (year on year/yoy).
“Penurunan itu terjadi antara lain karena pedagang kaki lima dan pemilik warung kembali ke kampung halaman mereka untuk merayakan Idulfitri,” ujar Abyan.
Hingga kuartal II-2024, Nippon Indosari membukukan laba bersih Rp 144,6 miliar, naik 22% dibanding Rp 118,7 miliar pada periode sama 2023.
Harga saham ROTI di Bursa Efek Indonesia (BEI) kini stagnan di level Rp 1.040. Selama tahun berjalan (year to date/ytd), saham ROTI minus 9,6%, selama enam bulan minus 13,7%, dan selama setahun minus 24,6%. ROTI memiliki PER 44,58 kali dengan return on asset (ROA) dan return on equity (ROE) masing-masing 3,73% dan 7,08%.
Biaya Bahan Baku Turun
Abyan mengungkapkan, penjualan Nippon Indosari di luar Jawa tumbuh 12,2%, yang berasal dari gerai Indomaret dan Alfamart. Di samping itu, biaya bahan baku menurun menjadi 27,9% dari total penjualan karena harga gandum dinormalisasi.
Mirae Asset percaya harga komoditas yang stabil akan membuat margin kotor Nippon Indosari terjaga di level 54%, meskipun tidak ada kenaikan harga pada periode saat ini.
“Tingkat pengembalian berhasil mencapai 15,3% karena ini adalah strategi perusahaan menuju cakupan distribusi yang lebih luas. Biaya logistik mencapai 9,3% dari total penjualan, lebih baik dari tahun lalu karena didukung lokasi pabrik baru,” papar dia.
Biasanya, kata Abyan Yuntoharjo, kendala logistik pada musim kemarau lebih sedikit, mengingat roti memiliki tingkat kedaluwarsa yang pendek. “Kinerja historis penjualan terkuat biasanya tercatat pada kuartal III,” tutur dia.
Abyan menambahkan, melihat kapasitas tambahan di wilayah Sumatra dan tingkat pemanfaatannya yang cukup, Nippon Indosari harus mampu mempertahankan pertumbuhan penjualan saat melakukan penetrasi pasar di wilayah yang belum dimanfaatkan.
Atas dasar itu pula, Mirae Asset menilai harga saham ROTI saat ini relatif rendah. “Penilaian itu didukung program buyback saham perusahaan yang sedang berlangsung serta membaiknya kinerja keuangan pada semester II-2024 dan tahun fiskal 2025," papar Abyan.

