Pengamat Sebut Target Purbaya Capai Pertumbuhan Ekonomi 6% Realistis, Asal..
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pengamat sekaligus Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menegaskan target pertumbuhan ekonomi 6% yang disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa adalah hal yang realistis. Namun pencapaiannya membutuhkan perubahan pendekatan analisa ekonomi, terutama dalam cara negara menggerakkan aktivitas ekonomi.
“Pertumbuhan 6% itu bukan mimpi. Tetapi ia memerlukan perubahan cara pandang yang fundamental terhadap bagaimana kebijakan fiskal–moneter bekerja dan bagaimana ekonomi didorong. Langkah penempatan dana pemerintah di perbankan mulai terlihat hasilnya, namun masih jauh dari optimal,” jelas Fakhrul kepada Investortrust, dikutip Senin (24/11/2025).
Untuk membawa perekonomian Indonesia naik kelas, kebijakan yang sudah ada harus ada pendorong tambahan. Fakhrul menggarisbawahi empat langkah kunci yang harus diambil. Pertama, adalah dilakukannya reformasi pasar tenaga kerja dan dukungan pada industri dalam negeri
“Mesin pertumbuhan 6% harus datang dari konsumsi masyarakat. Dan konsumsi hanya akan naik jika lapangan kerja tercipta. Ini adalah syarat yang tidak bisa ditawar,” ungkapnya.
Ia menilai langkah menertibkan impor barang-barang ilegal atau yang disebut thrifting, sudah tepat untuk melindungi industri dalam negeri. Fakhrul mendorong pemberian insentif pajak bagi perusahaan yang membuka lapangan pekerjaan baru.
"Kalau ada perusahaan yang naikkan gaji karyawan dan hire perusahaan baru, justru yang seperti ini harus didukung. Kita dukung sektor formal, karena sektor ini memberikan pekerja haknya dengan baik dan berkontribusi pada pendapatan pemerintah," tuturnya.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia itu menambahkan, langkah kedua yang perlu dilakukan pemerintah adalah dengan memperluas sumber pembiayaan APBN melalui diversifikasi mata uang global. Ia berujar, Indonesia tidak boleh terlalu bergantung pada pembiayaan dolar.
Baca Juga
Indef Sebut Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2026 Idealnya Capai 6% untuk Wujudkan Mimpi Prabowo
“Optimalisasi penerbitan Dim Sum Bond dalam Renminbi adalah langkah strategis. Biayanya rendah, likuiditasnya besar, dan akan membuka ruang fiskal signifikan,” sambungnya.
Fakhrul melanjutkan, langkah ketiga yang harus dilakukan oleh pemeirntah adalah melakukan pemulihan balance sheet usaha rakyat (UMKM & Subkontraktor Infrastruktur). Fakhrul menyoroti banyaknya UMKM subkontraktor konstruksi yang mengalami masalah arus kas akibat keterlambatan pembayaran proyek.
Ia meyakini pemulihan balance sheet usaha rakyat akan mempercepat putaran ekonomi dan memperkuat sektor riil dari bawah.
“Jika pemerintah menyelesaikan backlog pembayaran ini, kredit UMKM langsung kembali bergerak. Ini efeknya cepat, nyata, dan luas. Masalahnya mereka yang kompeten saat ini balance sheet nya mati karena belum dibayar. Begitu mereka dibayar, ekonomi akan berputar," lanjutnya.
Dan langkah terakhir, Fakhrul mendorong adanya koordinasi erat antara otoritas fiskal dan moneter, yakni pemerintah dan Bank Indonesia (BI) untuk menjaga likuiditas sitem keuangan. Ia menekankan, pentingnya peran BI dalam memastikan likuiditas tersedia untuk menopang ekspansi ekonomi.
Menurutnya, likuiditas yang longgar nantinya akan mendukung penyaluran kredit, khususnya kepada sektor-sektor strategis pendorong perekonomian. Ia menambahkan, kredit yang tinggi nantinya akan mendukung penguatan konsumsi dan investasi, yang mana kedua hal tersebut adalah fondasi dari pertumbuhan ekonomi yang solid.
“Untuk mencapai pertumbuhan 6%, likuiditas perbankan tidak boleh ketat. BI perlu berkoordinasi erat dengan pemerintah untuk memastikan ruang likuiditas cukup—baik melalui instrumen moneter, operasi pasar, maupun pendalaman pasar keuangan," papar dia.
Sebelumnya Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menargetkan pertumbuhan ekonomi 6% pada 2026. Angka ini lebih tinggi dari target pertumbuhan ekonomi di APBN 2026 yang sebesar 5,4%.
“Saya harapkan tahun depan ekonomi bukan 5,4% seperti target APBN, saya ingin dorong ke 6%, “ kata Purbaya, di acara BloombergTechnoz Ecoverse 2025, di Jakarta, Kamis (20/11/2025).
Purbaya menyebut target pribadinya ini sebagai tantangan. Sebab, tanpa dorongan pertumbuhan ekonomi yang tinggi di tahun mendatang, pemerintah Presiden Prabowo Subianto bakal kehilangan momentum untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 8%.
“Risikonya apa saya ngomong gini? Kalau nggak tercapai gue dipecat. Tapi, kalau nggak ada challenge, nggak menarik buat saya. Lebih baik saya duduk di rumah saja,” kata dia.

