Bank DBS Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Capai 5,2% di Tahun 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank DBS Indonesia merevisi perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini menjadi 5% dari 4,9% sebelumnya. DBS juga merevisi perkiraan pertumbuhan tahun 2026 menjadi 5,2% year on year (yoy) karena kebijakan fiskal dan moneter yang dirancang untuk mendukung pertumbuhan tahun depan.
Senior Economist DBS Bank Radhika Rao mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia menunjukkan ketahanan relatif pada kuartal III 2025 meskipun terjadi protes sipil dan tarif Amerika Serikat (AS) mulai berlaku. Ekonomi Indonesia tumbuh 5% yoy pada kuartal III 2025, didorong oleh langkah-langkah stimulus, peningkatan belanja publik yang moderat, dan perdagangan eksternal yang positif berkat ekspor manufaktur dan komoditas yang meningkat.
"Pertumbuhan diperkirakan akan lebih baik pada kuartal keempat tahun 2025, karena efek gabungan dari transmisi kebijakan, percepatan belanja pemerintah, program kesejahteraan, surplus likuiditas, dan ketahanan perdagangan eksternal yang relatif," ujar Radhika dalam acara DBS Metal and Mining Forum 2025: Analisis Lanskap Kebijakan, Prospek, dan Peran Perbankan di Four Seasons Hotel Jakarta, Rabu (26/11/2025).
Radhika menjelaskan, setelah beberapa putaran paket stimulus, pemerintah mengumumkan tambahan paket stimulus senilai Rp 30 triliun untuk bulan Oktober, yang mencakup bantuan tunai, diskon transportasi, dan lain-lain. Pemerintah juga mentransfer Rp 200 triliun dari dana kontinjensi untuk mendorong pertumbuhan kredit, sementara ekspor manufaktur dan komoditas tetap kuat hingga akhir tahun 2025.
"Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, kami merevisi perkiraan pertumbuhan tahun ini menjadi 5% dari 4,9% sebelumnya," ungkap Radhika.
Baca Juga
Pengamat Sebut Target Purbaya Capai Pertumbuhan Ekonomi 6% Realistis, Asal..
Selain percepatan belanja pemerintah, Radhika juga memperkirakan akan ada dorongan terhadap program kesejahteraan. Badan penanaman modal dalam negeri juga diberi tugas untuk melaksanakan proyek-proyek hilirisasi strategis dan komitmen WTE (limbah menjadi energi).
"Bank Indonesia (BI) diharapkan akan mendorong transmisi lebih lanjut ke suku bunga pinjaman bank. Konsumsi akan memerlukan lebih banyak dukungan mengingat produktivitas yang melambat, sementara pengangguran kaum muda tetap tinggi di tengah pertumbuhan upah yang lambat dan ekonomi informal yang semakin melebar," jelas Radhika.
Lebih lanjut, Radhika menyebut, investasi asing langsung (FDI) ke industri logam dan pengolahan dasar diperkirakan akan terus berlanjut, sementara pemerintah mencari pengecualian tarif pada kelompok komoditas utama.
"Tren inflasi tetap dalam kisaran target dan tidak mungkin menjadi perhatian bagi bank sentral. Pembalikan efek dasar (penurunan yang didorong stimulus pada tahun 2025), pertumbuhan kredit yang lebih baik, dan tekanan harga pangan musiman diperkirakan akan meningkatkan inflasi tahun 2026 menjadi 2,5%," terang Radhika.
Baca Juga
Indef Sebut Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2026 Idealnya Capai 6% untuk Wujudkan Mimpi Prabowo
Sementara itu, volatilitas mata uang yang lebih rendah dan inflasi yang stabil memungkinkan BI untuk menurunkan suku bunga sebesar 150 basis poin antara Agustus 2024 dan Oktober 2025 menjadi 4,75%. Pergeseran yang signifikan menuju pertumbuhan menunjukkan bahwa BI akan terus menurunkan suku bunga pada tahun 2026.
"Selain satu kali pemotongan suku bunga sebesar 25 basis poin pada tahun 2025, kami perkirakan akan ada dua kali pemotongan suku bunga lagi pada tahun 2026, hingga tingkat terminal sebesar 4,0%. Stabilitas rupiah akan menjadi faktor penting dalam menentukan waktu pemotongan suku bunga," imbuh Radhika.

