Rupiah Bergerak Melemah Usai Pengumuman APBN 2025
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id- Rupiah bergerak melemah di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) usai pengumuman APBN KiTa edisi November 2025. Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) mencatat rupiah berada di posisi Rp 16.742 per US$. Rupiah melemah 10 poin atau turun 0,06%.
Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah terdorong menguatnya indeks dolar AS atau DXY. Pasar melihat meningkatnya skeptisisme di antara para pejabat Federal Reserve (Fed) tentang pemangkasan suku bunga berikutnya pada bulan Desember mengaburkan prospek kebijakan moneter.
Para pejabat masih terpecah antara risiko inflasi yang masih ada dan tanda-tanda pelemahan pasar tenaga kerja, para pedagang mengurangi ekspektasi untuk pelonggaran lebih lanjut.
Dalam rilis notulen rapat FOMC Oktober 2025 terungkap bahwa sebagian besar peserta menilai penurunan suku bunga lebih lanjut kemungkinan akan tepat seiring waktu. Akan tetapi, beberapa mengindikasikan bahwa mereka tidak memandang penurunan suku bunga pada bulan Desember sebagai hal yang tepat.
Sebagian besar peserta rapat mencatat bahwa penurunan suku bunga lebih lanjut dapat menambah risiko inflasi yang lebih tinggi menjadi berlarut-larut atau dapat disalahartikan sebagai kurangnya komitmen terhadap target inflasi 2%.
Baca Juga
Banyak peserta berpendapat bahwa berdasarkan pandangan mereka, mempertahankan suku bunga tidak berubah selama sisa tahun ini adalah langkah yang tepat.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) memperkirakan transaksi berjalan pada 2025 akan berada dalam kisaran surplus 0,1% hingga defisit atau current account deficit (CAD) 0,7% terhadap produk domestik bruto (PDB). Proyeksi tersebut mencerminkan fundamental eksternal Indonesia yang dinilai tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi global.
BI mengatakan neraca pembayaran Indonesia (NPI) sepanjang tahun ini diperkirakan berada dalam kondisi yang berdaya tahan. Ini didukung defisit transaksi berjalan yang rendah serta aliran modal yang berpotensi meningkat seiring membaiknya prospek ekonomi nasional.
BI mencatat bahwa investasi portofolio sempat mengalami net outflows. Kondisi itu dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan global, yang memengaruhi preferensi investor terhadap aset negara berkembang.
Situasi tersebut mulai membaik pada kuartal IV-2025. Hingga 17 November 2025, investasi portofolio mencatat net inflow senilai US$ 1,8 miliar, terutama dari aliran modal ke pasar saham.
Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp. 16.730 hingga Rp.16.790 per US$.

