Rupiah Melemah ke Rp 16.736 per US$, Jelang Pengumuman APBN Edisi November 2025
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah melemah di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (20/11/2025) jelang diumumkannya data APBN 2025. Rupiah melemah 28 poin atau terdepresiasi sebesar 0,17% ke posisi Rp 16.741 per US$ berdasarkan data Bloomberg.
Selain rupiah, sejumlah mata uang mengalami tekanan dari dolar AS. Yuan China, euro Uni Eropa, poundsterling Britania Raya, hingga yen Jepang mengalami depresiasi.
Dolar AS menguat terhadap 0,02% terhadap yuan. Sementara itu, terhadap euro dan poundsterling, dolar AS menguat masing-masing 0,16% dan 0,07%. Dolar AS juga menekan dolar Singapura sebesar 0,02%, baht Thailand sebesar 0,01%, dan ringgit Malaysia sebesar 0,34%.
Mata uang yang terpantau menahan laju dolar AS yaitu rupee India. Rupee menguat 0,02% terhadap dolar AS.
Penguatan dolar AS di pasar spot ini terjadi karena indeks dolar AS atau DXY yang menguat. Posisi DXY berada di level 100,23.
Baca Juga
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro menjelaskan kenaikan DXY terjadi setelah laporan keuangan kuartalan dari perusahaan teknologi besar dan publikasi risalah FOMC.
“DXY menembus level 100,1 level tertinggi dalam hampir dua pekan karena pelaku pasar mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga Fed pada Desember,” kata Andry.
Peluang pemangkasan suku bunga bank sentral AS melemah ke 34%. Perubahan ini terjadi setelah otoritas AS tak akan menerbitkan laporan ketenagakerjaan Oktober karena data survei rumah tangga tidak dapat dikumpulkan secara baik. Tanpa data ini, the Fed akan kesulitan menilai pasar tenaga kerja.
Sementara itu, saham perusahaan chipset, Nvidia mengalami lonjakan lebih dari 5% dalam perdagangan Rabu (19/11/2025) setelah perusahaan melaporkan laba dan pendapatan yang lebih kuat. Selain itu, Nvidia yakin penjualan pada kuartal IV-2025 lebih baik dari perkiraan.
Dari dalam negeri, Andry menjelaskan keputusan BI mempertahankan BI Rate di 4,75% merupakan langkah yang terprediksi pasar. Ini sesuai sinyal dari Gubernur BI, Perry Warjiyo yang ingin menjaga stabilitas rupiah dan mendorong upaya pertumbuhan ekonomi.
Nilai tukar Mata Uang Garuda terhadap dolar AS sendiri, pada hari ini, diperkirakan akan bergerak pada Rp 16.675 hingga Rp 16.755 per US$.

