Jelang Pengumuman APBN KiTa, Rupiah Melemah Terhadap Dolar AS di Posisi Rp 16.703 per US$
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id- Rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (18/12/2025). Pada pagi ini, rupiah terseok ke posisi Rp 16.703 per US$ atau melemah 0,05% di pasar spot pada pukul 09.08 WIB.
Dolar AS melanjutkan penguatannya pada hari ini. Indeks mata uang AS atau DXY terpantau naik tipis ke 98,3. Meski naik, angka ini berada di dekat level terendah selama dua bulan terakhir.
Posisi dolar AS yang menguat terjadi karena pasar terus mempertimbangkan prospek kebijakan moneter the Fed pada 2026.
Menurut papan data Bloomberg, dolar AS menguat terhadap sejumlah mata uang di negara mitra dagang Indonesia. Dolar AS menguat terhadap yen Jepang sebesar 0,06%, ringgit Malaysia sebesar 0,05%, dolar Singapura sebesar 0,03%, dan baht Thailand sebesar 0,06%.
Sementara itu, dua negara mitra dagang utama Indonesia, China dan India, menahan laju penguatan dolar AS. Yuan China menguat 0,01% dan rupee India menguat sebesar 0,72%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro melihat data ekonomi yang dirilis pemerintah AS tak banyak mengubah ekspektasi pasar. Investor masih memperkirakan the Fed akan menurunkan suku bunga acuan setidaknya sekali.
Baca Juga
Kondisi ini ditopang naiknya tingkat pengangguran di AS pada November 2025 yang menjadi 4,6%. Angka ini menjadi yang tertinggi sejak 2021. Data itu menegaskan pelonggaran bertahap di pasar tenaga kerja AS.
Sementara itu, indeks S&P Global Flash Manufacturing PMI turun menjadi 51,8 pada Desember 2025. Angka ini menjadi yang terendah selama lima bulan.
“Angka ini menunjukkan melemahnya perbaikan kondisi bisnis manufaktur, seiring pertumbuhan produksi yang turun ke level terendah tiga bulan dan pesanan baru yang turun untuk pertama kalinya sejak Desember 2024,” kata Andry.
Di dalam negeri, pasar mempertimbangkan keputusan Bank Indonesia (BI) yang menahan suku bunga acuan sebesar 4,75%. Keputusan ini diambil setelah BI memangkas suku bunga acuan sebesar 150 basis poin sejak September 2024.
Dengan kondisi ini, rupiah diproyeksikan bergerak fluktuatif di kisaran Rp 16.650-16.710 per US$.
Proyeksi ini akan terus dipantau pasar seiring rencana Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melaporkan kondisi APBN November 2025 pada siang ini pukul 15.00 WIB. Pasar akan melihat kondisi pendapatan negara yang tersendat karena adanya potensi shortfall di penerimaan pajak.

