Rupiah Menguat Usai BI Pertahankan BI Rate di Level 4,75%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id- Rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (19/11/2025). Rupiah menguat 28 poin atau menguat 0,16% ke level Rp 16.732 per US$.
Penguatan tersebut terjadi usai BI mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI November 2025. Pada pengumuman hasil rapat, BI mempertahankan BI Rate di level 4,75%.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti menjelaskan kondisi perekonomian global masih dalam ketidakpastian yang tinggi. Kondisi ini membuat indeks dolar AS atau DXY cenderung mengalami kenaikan.
“Demikian juga dengan yield US Treasury Bonds. Itu juga masih tinggi yield-nya,” kata Destry saat paparan hasil RDG BI November 2025, Rabu (19/11/2025).
Kondisi imbal hasil US Treasury Bond yang tinggi dan DXY yang cenderung naik, mendorong terjadinya risk-off di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Kondisi ini membuat aliran modal asing yang masuk ke pasar negara berkembang juga terbatas.
“Sehingga kalau kita lihat apa yang terjadi dengan rupiah dan beberapa mata uang di regional saat ini, khususnya sejak Oktober sampai saat ini terus mengalami pelemahan,” jelas dia.
Sejak Oktober hingga sekarang, Destry menyebut rupiah terdepresiasi 0,48%. Angka ini masih lebih rendah daripada depresiasi yang terjadi terhadap mata uang sejumlah negara di Asia Tenggara. Peso Filipina mengalami depreasi 1,34% dan won Korea Selatan terkoreksi ke bawah 4,25%. Sementara itu, baht Thailand terdepresiasi 0,21%.
“Volatilitas ini memang terus terjadi,” kata dia.
Baca Juga
Pada saat menyampaikan data, Desty melihat pasar regional relatif menguat. Rupiah sempat menguat di level 0,21%, peso Filipina menguat 0,25%, dan baht Thailand terapresiasi 0,11%.
“Jadi, langkah-langkah yang kami ambil, yaitu kita intervensi secara proaktif dan terukur,” jelas dia.
Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Mandiri melihat langkah BI mempertahankan BI Rate direspons pasar saham dengan kenaikan IHSG sebesar 0,5% ke level 8.407. Nilai transaksi saham mencapai Rp 30 triliun membuat rata-rata nilai transaksi saham harian sepanjang 2025 mencapai Rp 16,8 triliun.
“Investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp 1,7 triliun,” kata Andry.
Posisi obligasi pemerintah tenor 10 tahun, naik 0,1 bps menjadi 6,14%. Adapun imbal hasil obligasi pemerintah global (INDON) tenor 10 tahun naik 0,5% menjadi 5%.
“Kepemilikan asing pada SBN per 17 November 2025 tercatat sebesar Rp 869,9 triliun atau 13,39% dari total outstanding,” ujar dia.

