Setahun Prabowo-Gibran, Persoalan Produktivitas dan Daya Beli Kelas Menengah Masih Jadi Sorotan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Terdapat sejumlah catatan pada satu tahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Beberapa di antaranya mengenai produktivitas pekerja dan kemampuan daya beli kelas menengah.
Ekonom senior Raden Pardede menjelaskan pemerintah Prabowo-Gibran perlu mendorong lompatan produktivitas untuk mengejar ketertinggalan dari Vietnam. Kemampuan meningkatkan produktivitas ini penting agar Indonesia keluar dari middle income trap.
“Peningkatan efektivitas, produktivitas, dan peningkatan di bidang teknologi adalah prasyarat untuk kita bisa ke sana (target pertumbuhan 8% pada 2045)” kata Raden, saat diskusi Satu Tahun Kinerja Kabinet Merah Putih di Bidang Perekonomian, Jakarta, Senin (20/10/2025).
Selain produktivitas di tenaga kerja, Raden juga berharap pemerintah melakukan modernisasi terhadap ekonomi Indonesia. Salah satunya dengan beradaptasi terhadap new-growth model.
Baca Juga
Setahun Pemerintahan Prabowo: Menperin Pamer Investasi Manufaktur Capai Rp 568,4 Triliun
Raden menjelaskan penggunaan teknologi penting untuk mengembangkan model baru pertumbuhan ekonomi ini. Penggunaan artificial intelligence, misalnya, diharapkan memodernisasi pertanian. Agar mesin perekonomian bekerja diperlukan investasi baik dari perbankan maupun asing.
Chief economist The Economic Intelligence Sunarsip menjelaskan peran ekspor begitu penting bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Tetapi, faktor ini sangat dipengaruhi harga komoditas global.
Sebagai bentuk pendorong pertumbuhan ekonomi, pemerintah perlu fokus memulihkan konsumsi rumah tangga. Sebab, saat ini konsumsi rumah tangga baru tumbuh di bawah 5%.
“Konsumsi rumah tangga perlu ditopang dengan cara apa? Memulihkan daya beli kelompok kelas menengah,” kata Sunarsip.
Menurut Sunarsip, pemerintah terlalu fokus terhadap kelompok kelas bawah. Di tengah gelombang besar pemutusan hubungan kerja (PHK), pemerintah perlu mendorong terciptanya lapangan kerja untuk menjaga jumlah kelas menengah itu.
“Makanya kita support program-program pengembangan job creation melalui magang-magang. Tetapi, kalau bisa itu harus di-upgrading atau di-upskilling,” ujar dia.
Untuk itu, Sunarsip menyarankan perbaikan terhadap sektor-sektor ekonomi yang menyerap banyak tenaga kerja. Misalnya, sektor pariwisata, transportasi, serta informasi dan komunikasi. Tiga sektor ini, misalnya, mampu tumbuh melesat dengan recovery yang cepat.
“Untuk mengejar sampai ke 9%, maka sektor-sektor yang recovery-nya rendah harus didorong. Di samping tentunya tetap mendorong sektor-sektor yang memang tumbuhnya bagus,” ucap dia.

