Rupiah Menguat Pagi Ini, tapi Investor Masih Waspada
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Rupiah mencatat penguatan pada Rabu pagi (10/9/2025), menandai rebound setelah tertekan sehari sebelumnya. Data Bloomberg menunjukkan mata uang Garuda naik 28 poin atau 0,17% ke Rp 16.453 per dolar AS didorong melemahnya indeks dolar AS dan sentimen positif di pasar Asia.
Namun, penguatan rupiah Rabu pagi belum menjadi sinyal pembalikan tren karena investor masih khawatir potensi capital ouflow.
Penguatan rupiah ini terjadi seiring melemahnya indeks dolar AS (DXY) yang turun 0,01% ke level 97,78. Sentimen positif juga datang dari penguatan mayoritas mata uang Asia, termasuk yen Jepang yang naik 0,06%, won Korea Selatan 0,04%, dan dolar Hong Kong 0,02%.
Sementara itu, ringgit Malaysia dan baht Thailand justru melemah masing-masing 0,18% dan 0,05%. Kondisi ini memberi ruang bagi rupiah untuk bergerak menguat, meski tekanan dari faktor domestik dan eksternal masih besar.
Baca Juga
Sehari sebelumnya, data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menunjukkan rupiah berada di Rp 16.462 per dolar AS melemah 114 poin atau terkoreksi 0,69%. Data kantor ekonom Bank Mandiri bahkan mencatat depresiasi lebih dalam 1,05% ke Rp 16.475 per dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa (9/9/2025). Rentang perdagangan rupiah di pasar spot bergerak antara Rp 16.343 hingga Rp 16.492.
Pengamat komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi menilai penguatan rupiah Rabu pagi belum menjadi sinyal pembalikan tren. Menurutnya, ketidakpastian global masih menjadi faktor utama.
“Ketidakpastian politik di Jepang setelah pengunduran diri PM Shigeru Ishiba dan prospek sanksi AS yang lebih ketat terhadap Rusia menyusul serangan mematikan Moskow terhadap Ukraina di akhir pekan, berkontribusi pada permintaan aset safe haven emas batangan,” kata Ibrahim.
Dari dalam negeri, pasar juga mencermati pergantian Menteri Keuangan. Sri Mulyani Indrawati digantikan oleh Kepala Lembaga Penjamin Simpanan Purbaya Yudhi Sadewa. Pergantian ini dinilai memicu kekhawatiran investor global mengenai arah kebijakan fiskal Indonesia.
Baca Juga
Bank Mandiri mencatat arus keluar bersih di pasar saham pada Selasa mencapai Rp 4,5 triliun. Net outflow dari obligasi pemerintah sejak 8 September 2025 tercatat sebesar Rp 16,3 triliun, memperkuat tekanan pada pasar keuangan domestik.
Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif hingga akhir perdagangan. “Rupiah kemungkinan ditutup di kisaran Rp 16.480 hingga Rp 16.540 per US$, seiring kombinasi sentimen global dan domestik yang masih negatif,” ujarnya.

