DXY Turun tapi Rupiah Belum Menguat, BI Sebut Volatilitas Global Masih Tinggi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Di tengah melemahnya indeks dolar Amerika Serikat (DXY) ke kisaran 90-an, nilai tukar rupiah justru masih di level Rp 16.500 hingga Rp 16.700 per dolar AS. Kondisi ini memunculkan tanda tanya di pasar, mengingat secara historis pelemahan dolar global biasanya menjadi katalis penguatan mata uang negara berkembang.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menegaskan, dinamika rupiah saat ini tidak bisa dilihat secara parsial dari pergerakan DXY semata. Menurutnya, volatilitas global yang masih tinggi membuat aliran modal bergerak sangat cepat dan cenderung mencari instrumen aman (safe haven), meski dolar AS secara indeks tampak melemah.
“Secara fundamental, ekonomi domestik kita sudah menunjukkan turning point. Pertumbuhan kuartal IV-2025 mencapai 5,39%, sementara global justru masih dibayangi ketidakpastian yang sangat tinggi,” ujar Destry dalam acara Economic Outlook 2026 di Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Dia menjelaskan, tekanan global berasal dari kombinasi risiko geopolitik dan ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Meski Presiden AS Donald Trump dikenal berpandangan lebih dovish dan mendorong penurunan suku bunga, ekspektasi pasar justru berubah setelah bank sentral AS di bawah kepemimpinan baru menunjukkan kehati-hatian.
Data ekonomi AS yang masih relatif solid membuat pasar menilai penurunan suku bunga The Fed tidak akan secepat yang diharapkan. Akibatnya, suku bunga global diperkirakan bertahan tinggi lebih lama, menciptakan kompetisi ketat antarnegara dalam menarik aliran dana global.
Destry menekankan bahwa volatilitas bukan hanya terjadi pada rupiah, tetapi juga pada dolar itu sendiri. DXY sempat turun hingga level 90 dalam beberapa bulan terakhir, tetapi kembali melonjak mendekati 98 sebelum turun lagi ke kisaran 96. Fluktuasi tajam ini mencerminkan pasar global yang masih sangat “berisik.”
“Volatilitas itu terjadi di semua mata uang, baik itu yang sifatnya global maupun regional. Nah di kita juga sama, rupiah ini juga memang terus mengalami perkembangan, karena ketidakpastian masih tinggi. Sehingga yang terjadi adalah banyak para investor mereka cari yang safe haven,” jelas Destry.
Baca Juga
Rupiah Melemah, Antisipasi Geopolitik Washington Kerek Dolar AS
Menurut dia, investor global cenderung mengalihkan dana ke instrumen safe haven, termasuk obligasi dolar AS dan emas. Pergeseran portofolio ini membuat emas mencatat lonjakan harga signifikan. Dalam setahun terakhir, harga emas melonjak lebih dari dua kali lipat, mencerminkan meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar.
“Uang itu tidak loyal. Uang hanya loyal pada berapa return yang saya dapat dengan 1% atau Rp 1 atau US$ 1 saya invest. Jadi buat kami, bahwa rupiah sekarang memang masih mengalami pelemahan, tapi kalau kita lihat dalam tiga hari terakhir, rupiah sudah mulai mengalami penguatan. Hari ini pun rupiah sudah berada di level Rp 16.700-an,” ungkapnya.
Merespons tekanan tersebut, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus menjaga stabilitas rupiah melalui kebijakan yang konsisten dan terukur. BI aktif melakukan intervensi cerdas (smart intervention) di pasar spot, non-deliverable forward (NDF), serta menjaga stabilitas pasar Surat Berharga Negara (SBN) ketika terjadi tekanan outflow.
Beberapa hari terakhir, BI tercatat masuk ke pasar untuk meredam lonjakan yield SBN agar tetap berada pada level yang wajar. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga daya tarik aset rupiah di tengah persaingan global yang semakin ketat.
Destry menyoroti pentingnya komunikasi kebijakan yang kuat dan selaras antara pemerintah dan regulator. Pernyataan yang jelas dan konsisten terbukti mampu memulihkan kepercayaan pasar, terutama setelah muncul gejolak regional dan rilis laporan global yang sempat memicu kekhawatiran investor.
Baca Juga
Rupiah Terdepresiasi 44 Poin, Melemah ke Rp16.886 per Dolar AS
Ke depan, BI optimistis stabilitas rupiah akan semakin terjaga seiring membaiknya sentimen pasar dan mulai masuknya kembali aliran dana asing. Dalam beberapa hari terakhir, inflow tercatat kembali masuk ke SBN, instrumen SRBI, hingga pasar saham, berbalik dari outflow besar yang terjadi tahun lalu.
“Jadi buat kami gejolak itu satu hal yang normal di tengah dinamika global yang sangat tinggi. Namun, yang pasti seperti kalau kita bisa lihat, tahun lalu itu ada outflow sampai Rp 126 triliun, tetapi tahun ini kita lihat beberapa hari inflow sudah mulai masuk, masuk di SBN, masuk di SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia) saham pun kita sudah mulai lihat yang masuk,” papar Destry.

