Ekspor Batu Bara RI Turun 21,74%, tapi PNBP Tetap Aman
Nilai Ekspor Batu Bara Anjlok 21,74%, ESDM Pastikan PNBP Tetap Aman
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Nilai ekspor batu bara Indonesia anjlok sebesar 21,74% sepanjang periode Januari-Juli 2025. Meski begitu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor mineral dan batu bara (minerba) tetap aman.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor batu bara periode Januari–Juli 2025 sebesar US$ 13,82 miliar, mengalami penurunan 21,74% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya US$ 17,66 miliar.
Baca Juga
Ditinggal Air Products, Proyek Hilirisasi Batu Bara Jadi DME Tetap Lanjut
Direktur Jenderal Minerba Kementerian ESDM Tri Winarno menyebut, penurunan ini terjadi karena meningkatnya kapasitas produksi batu bara di China dan India, yang selama ini menjadi tujuan utama ekspor RI.
“Nah, sedangkan kita ekspor utamanya ke kedua negara itu. Jadi wajar-wajar saja sebetulnya (kalau mengalami penurunan). Sebetulnya ini siklusnya ya, naik turun begitu, harga naik turun. Seperti itulah kira-kira,” kata Tri Winarno saat ditemui di kompleks parlemen, Jakarta, Rabu (3/9/2025).
Kendati demikian, Tri Winarno memastikan bahwa PNBP dari sektor minerba tetap sesuai dengan target yang ditentukan. Menurutnya, realisasi PNBP hingga 1 September telah mencapai 70% dari target yang ditetapkan dalam APBN 2025. “Secara umum PNBP di kita secara target per 1 September ini 70%. Jadi untuk PNBP sesuai target insyaallah sampai akhir tahun sesuai target,” tegas Tri Winarno.
Sementara itu, terkait menurunnya ekspor batu bara ke China dan India, pemerintah telah berkoordinasi dengan Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) untuk menjajaki kemungkinan pasar baru di ASEAN.
“Untuk Asia itu utamanya untuk ASEAN coba dijajaki. Kita sudah ngomong juga dengan APBI, coba dijajaki misalnya Vietnam, Malaysia, Thailand, kemudian Filipina. Itu coba dijajaki karena beberapa memang diambil,” ungkap dia.
Baca Juga
Batu Bara Didorong 'Coal Chemical', Bisa Jadi Plastik, Pelumas, hingga Material Modern
Menurutnya, peluang untuk membuka pasar baru di kawasan ASEAN terbuka cukup lebar. Sebab, jika negara-negara di Asia Tenggara mengimpor batu bara dari Rusia, ongkosnya bisa lebih besar karena terkendala jarak.
“Kalau misalnya diambil dari Rusia kan dia kejauhan juga transportasi. Nah, itu sedang dijajaki seperti apa. Mudah-mudahan ya, mudah-mudahan ada ekspansi,” ucap Tri Winarno.

