ESDM "Pede" Target PNBP Minerba Rp 134 Triliun Tercapai meski Produksi Batu Bara Dipangkas
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) optimistis target penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sektor mineral dan batu bara (minerba) untuk 2026 yang sebesar Rp 134 triliun dapat tercapai.
Target PNBP tersebut sejatinya lebih tinggi dibandingkan target 2025 sebesar Rp 124,7 triliun, meskipun pada tahun ini terdapat pemangkasan produksi batu bara dan nikel melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026.
Baca Juga
Bahlil: Produksi Batu Bara RI 2026 Dipangkas ke 600 Juta Ton untuk Jaga Harga
Terkait hal ini, Direktur Jenderal Minerba Kementerian ESDM Tri Winarno menyampaikan bahwa ada beberapa hal yang dapat dioptimalkan untuk tetap mencapai target PNBP tersebut, meskipun terjadi pemangkasan volume produksi batu bara.
“Logikanya pemangkasan produksi pasti PNBP pasti enggak tercapai. Namun, ada beberapa hal yang mungkin bisa kita optimalkan,” kata Tri Winarno saat ditemui dalam acara Indonesia Weekend Miner by Indonesia Mining Summit di Jakarta, Sabtu (24/1/2026).
Tri menjelaskan, dengan adanya pemangkasan produksi ini membuat harga batu bara berpotensi naik. Selain itu, pihaknya mengoptimalkan penerimaan dari berbagai platform digital terkait batu bara seperti E-PNBP.
“Yang pertama, terkait harga yang naik, terus kemudian kita optimalisasi penerimaan melalui biasalah, pemeriksaan-pemeriksaan yang dari aplikasi E-PNBP. Kemudian ada beberapa pengawasan yang akan kita lakukan, di antaranya kita ada beberapa nanti kebijakan,” ucap Tri.
Sebelum ini, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan, produksi batu bara nasional 2026 akan mengalami penurunan menjadi sekitar 600 juta ton. Diketahui, pada 2025 produksi batu bara Indonesia sebesar 790 juta ton.
Baca Juga
Wujudkan Kemandirian Energi Nasional, MIND ID–Pertamina Perkuat Kolaborasi Hilirisasi Batu Bara
Bahlil menjelaskan, pemangkasan target produksi ini diterapkan untuk mendongkrak kembali harga batu bara global. Sebab, saat ini batu bara Indonesia sudah sangat mendominasi sehingga menyebabkan oversupply.
“Batu bara yang diperdagangkan di global itu kurang lebih sekitar 1,3 miliar ton. Dari 1,3 miliar ton itu, Indonesia menyuplai 514 juta ton, atau setara kurang lebih sekitar 43%. Akibatnya apa? Supply and demand itu tidak terjaga. Akhirnya harga batu bara turun,” kata Bahlil.

