Rupiah Melemah ke Rp 16.241 per Dolar AS, Pasar Cermati Risiko Global dan RAPBN 2026
JAKARTA, investortrust.id – Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Selasa (19/8/2025). Berdasarkan kurs Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah terdepresiasi 79 poin atau 0,48% ke level Rp 16.241 per dolar AS. Data Bloomberg turut mencatat rupiah melemah 48 poin (0,29%) ke Rp 16.246 per dolar AS.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan pelemahan rupiah dipicu oleh faktor eksternal. Fokus pasar tertuju pada pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy di Gedung Putih yang juga dihadiri para pemimpin Eropa. Trump berjanji memberikan jaminan keamanan bagi Ukraina sebagai bagian dari penyelesaian damai, meski tanpa rincian lebih lanjut.
Baca Juga
Saham ASII Melesat dan Diborong Asing Hari Ini, Bagaimana Target Harganya?
Selain itu, ketidakpastian meningkat terkait tarif sekunder 25% AS terhadap India atas perdagangan minyak Rusia yang akan berlaku efektif 27 Agustus 2025. Penasihat perdagangan Gedung Putih Peter Navarro menegaskan India harus menghentikan impor minyak Rusia atau menghadapi konsekuensi lebih jauh.
Fokus investor juga tertuju pada risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang akan dirilis Rabu, serta pidato Ketua The Fed Jerome Powell di simposium Jackson Hole pada Jumat, yang berpotensi memberi arah baru kebijakan moneter AS.
Dari dalam negeri, pemerintah merencanakan penarikan utang baru sebesar Rp 781,87 triliun pada 2026. Berdasarkan Buku II Nota Keuangan RAPBN 2026, pembiayaan utang akan dipenuhi melalui penerbitan Surat Berharga Negara (SUN), Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), serta pinjaman dalam dan luar negeri.
Baca Juga
Tujuh Saham Dipimpin BEER Cetak ARA, Meski IHSG Ditutup Melemah 0,43% Hari Ini
Dari jumlah tersebut, pembiayaan dari SBN diperkirakan mencapai Rp 749,19 triliun, naik dibandingkan outlook 2025. Adapun pembiayaan pinjaman (neto) direncanakan Rp 32,67 triliun atau turun 74,9% dibandingkan outlook 2025. Pinjaman neto terdiri dari pinjaman dalam negeri negatif Rp 6,53 triliun dan pinjaman luar negeri neto Rp 39,21 triliun.
Menurut Ibrahim, pemerintah menegaskan pengelolaan utang tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian serta mengutamakan pembiayaan inovatif dan berkelanjutan.
Sementara itu, rapat dewan gubernur (RDG) BI periode 19–20 Agustus 2025 menjadi perhatian pasar. BI akan menilai perkembangan ekonomi global dan domestik, termasuk capaian pertumbuhan ekonomi kuartal II-2025 sebesar 5,12%. “Konsensus Bloomberg memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,25%,” ujar Ibrahim.

