Target Defisit Diturunkan, Ini Postur RAPBN 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Presiden Prabowo Subianto menyampaikan Nota Keuangan dan Rancangan Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RUU APBN) 2026. Penyampaian ini akan menjadi Nota Keuangan dan RAPBN pertama bagi presiden kedelapan tersebut.
Dalam paparannya, Prabowo menjelaskan bahwa postur RAPBN 2026 diarahkan pada pendapatan negara sebesar Rp 3.14,77 triliun. Sementara itu, belanja negara mencapai Rp 3.786,5 triliun.
Pendapatan negara yang ditargetkan pada 2026 tersebut naik 9,84% daripada outlook APBN 2025 yang sebesar Rp 2.865,5 triliun. Kondisi ini juga mengerek belanja negara. Pada 2026, belanja negara akan naik 7,34% dibandingkan outlook 2025 yang sebesar Rp 3.527,5 triliun.
“Untuk mendukung agenda pembangunan di tengah gejolak global,” kata Prabowo, saat Rapat Paripurna DPR RI ke-1 Tahun Sidang 2025-2026, di Jakarta, Jumat (15/8/2025).
Prabowo menjelaskan defisit RAPBN 2026 yaitu sebesar Rp 638,8 triliun atau 2,48% dari PDB. Angka defisit ini turun 3,5% dari outlook 2025 yang sebesar Rp 662 triliun atau 2,78% dari PDB.
“Ditopang pembiayaan yang prudent, inovatif, dan sustainable. Dan, pemerintah yang saya pimpin berjanji di hadapan majelis ini, kami akan terus melakukan efisiensi sehingga defisit ingin kami tekan sekecil mungkin,” kata dia.
Sementara itu, keseimbangan primer menuju ke arah yang positif. Utang terkendali dalam batas aman.
Prabowo berharap dapat terus menekan utang pada 2027 dan 2028. Dia berharap APBN di tahun tersebut tidak ada defisit.
"Kita harus berani, kita harus bertekad, menghilangkan kebocoran, menekan segala bentuk kebocoran, dan untuk itu, saya minta dukungan seluruh kekuatan politik yang ada di Indonesia," ujar dia.

