Ungkap PHK Paling Banyak dari Sektor Padat Karya, Bos Apindo Minta Insentif Fiskal
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani mengungkapkan, salah satu tantangan dunia usaha saat ini adalah pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terus meningkat. PHK massal didominasi sektor padat karya.
Meski realisasi investasi ke Indonesia pada triwulan II-2025 mencapai Rp 477,7 triliun dan menciptakan 1,2 juta lapangan kerja baru, tetapi menurut Shinta capaian tersebut belum cukup untuk memenuhi kebutuhan pekerjaan di dalam negeri.
Baca Juga
Marak PHK Wartawan di Industri Media, Dewan Pers Usul Solusi Jurus Jitu ke Pemerintah
"Tentunya ini menjadi masalah utama, karena penciptaan ini belum memadai dibandingkan angka PHK maupun pekerjaan baru yang harus disiapkan setiap tahunnya," ucap Shinta saat konferensi pers di kantor Apindo, Jakarta, Selasa (29/7/2025).
Shinta menjelaskan, Indonesia harus membuka 2-3 juta lapangan pekerjaan baru setiap tahunnya. Ia pun menilai, fenomena PHK ini tidak hanya dinilai dari angka, melainkan upaya dan solusi pemerintah untuk mengatasi masalah ini. "PHK ini terus meningkat, terutama di sektor-sektor paat karya, seperti tekstil dan produk tekstil (TPT), sektor-sektor yang sangat tertekan pada hari ini," ungkapnya.
Merespons PHK dan lemahnya penciptaan lapangan pekerjaan, Apindo mengusulkan sejumlah kebijakan kepada pemerintah, di antaranya insentif yang berdampak langsung pada keberlanjutan industri, khususnya sektor padat karya.
Baca Juga
Bisa Rugikan RI, Pengusaha Tekstil Wanti-wanti Pemerintah Soal Praktik Transhipment
"Kami mengusulkan beberapa hal, paket insentif fiskal dan perpajakan, seperti pembebasan PPN (pajak pertambahan nilai) atas jasa subkontrak dan bahan baku tertentu, kemudian pencepatan restitusi PPN, penghapusan bea masuk bahan baku komoditas tertentu, serta perluasan PPh 21 (pajak penghasilan) yang ditanggung pemerintah," terang Shinta.
Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker), PHK hingga semester I-2025 mencapai 42.385 pekerja meningkat 32,19% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yakni 32.064 orang.

