AS Kena Batunya Imbas Serang Iran karena Inflasi dan Harga Minyak Melonjak, Ini Penjelasan Pakar
JAKARTA, investortrust.id - Serangan Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (21/6/2025) bisa menjadi bumerang bagi perekonomian AS. Meski obligasi pemerintah, khususnya US Treasury tenor 10 tahun akan diminati, tetapi di sisi lain mengakibatkan kenaikan harga minyak dan memperburuk inflasi global.
Konflik yang memanas ini memicu volatilitas di pasar global dan mendorong investor flight to safety dengan membeli aset yang dianggap aman, seperti obligasi Pemerintah AS, emas, yen Jepang, dan franc Swiss.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai, permintaan terhadap US Treasury yang meningkat akan menyebabkan yield obligasi turun. “Namun, dampak jangka panjangnya, lebih kompleks,” kata Josua kepada investortrust.id, Senin (23/6/2025).
Eskalasi konflik yang kian memanas, kata Josua, mengakibatkan kenaikan harga minyak dan memperburuk inflasi global. Kondisi inflasi global yang naik dapat mengerek imbal hasil obligasi.
Ketidakpastian ini membuat imbal hasil obligasi fluktuatif di mana ekspektasi inflasi meningkat dikombinasikan kenaikan biaya pinjaman bagi Pemerintah AS akibat tingginya beban utang. “Dengan begitu berpotensi menambah tekanan pada defisit fiskal AS yang sudah tinggi,” jelas dia.
Dihubungi terpisah, Kepala Ekonom BCA David Sumual punya pandangan serupa. Blokir suplai minyak di Selat Hormuz akan mengerek harga minyak mentah global. Kondisi ini dapat menunda keputusan The Fed memotong suku bunga acuannya.
“Penundaan suku bunga dapat memicu kenaikan yield US Treasury,” kata David.
Baca Juga
Harga Batu Bara Turun Tipis di Tengah Eskalasi Perang Iran-Israel
UU Stablecoin jadi solusi?
Josua mengatakan, legalisasi stablecoin dalam Undang-Undang (UU) Stablecoin di parlemen AS menjadi bagian penting kebijakan fiskal Negara Paman Sam. Dengan legalisasi ini, Pemerintah AS punya instrumen baru untuk memperluas akses pembiayaan,.
Stablecoin yang diatur dengan jelas mampu menarik investor global yang mencari instrumen keuangan alternatif di tengah ketidakpastian pasar tradisional.
“Dalam konteks meningkatnya beban utang AS, pemanfaatan stablecoin sebagai alat pembiayaan tambahan memang menarik, tetapi belum tentu dapat sepenuhnya menggantikan peran obligasi pemerintah konvensional,” ujar Josua.
Josua melihat pasar stablecoin yang masih relatif baru ini membawa risiko regulasi dan stabilitas yang belum sepenuhnya teruji dalam jangka panjang. Dengan begitu, penggunaan sebagai solusi untuk defisit fiskal AS harus dilakukan secara hati-hati dan bertahap.
“Meski demikian, langkah ini menandai evolusi penting dalam strategi pembiayaan negara yang dapat membuka lebih banyak ruang manuver fiskal di masa depan,” kata dia.
Baca Juga
David juga memiliki pandangan yang serupa. Pasar yang terbatas dari stablecoin masih belum signifikan mengangkat pembiayaan pemerintah. “Mungkin secara total belum signifikan karena size stablecoin masih kecil,” ujar David.
Meski begitu, David berpandangan, UU Stablecoin dapat menambah permintaan dolar AS dalam jangka menengah. Ini karena regulasi bernama Genius Act ini mengharuskan stablecoin disetarakan 1:1 dengan aset likuid semisal uang tunai atau treasury bills dengan maturity 3 bulan.
“Sehingga dapat meningkatkan permintaan terhadap T-bills dan menurunkan yield, ini dapat membantu Pemerintah AS menerbitkan surat utang jangka pendek dengan biaya bunga lebih rendah dan menurunkan beban bunga,” kata dia.

