Dow Futures Anjlok Lebih dari 100 Poin Setelah AS Bom Iran
NEW YORK, investortrust.id - Kontrak berjangka saham AS melemah menjelang pembukaan pasar Senin, setelah Amerika Serikat secara resmi bergabung dalam konflik Israel-Iran dengan melancarkan serangan ke tiga fasilitas nuklir utama milik Teheran. Langkah mengejutkan Presiden Donald Trump itu mendorong lonjakan harga minyak dan meningkatkan risiko eskalasi konflik besar di Timur Tengah.
Baca Juga
Pasukan AS Bombardir Situs Nuklir Iran, Trump Sebut Fordow Sudah Dihancurkan
Kontrak berjangka indeks Dow Jones Industrial Average turun 109 poin atau 0,3%. Sementara itu, S&P 500 futures merosot 0,3% dan Nasdaq 100 futures kehilangan 0,4%.
Serangan terhadap situs nuklir Fordow, Isfahan, dan Natanz diluncurkan pada Sabtu malam waktu setempat. Padahal, sehari sebelumnya Trump menyatakan kepada publik bahwa ia akan mengambil keputusan terkait serangan terhadap Iran “dalam dua minggu ke depan,” membuat banyak investor berharap diplomasi masih mungkin ditempuh.
Ketegangan di Timur Tengah telah lebih dulu mendorong harga minyak dalam beberapa pekan terakhir. Minggu malam, kontrak berjangka minyak mentah AS melonjak 3,8% ke hampir $77 per barel.
"Setiap kali terjadi konflik, pasar cenderung bereaksi berlebihan—reaksi spontan yang bisa berlangsung dua hingga tiga minggu," ujar Jay Woods, Kepala Strategi Global di Freedom Capital Markets, seperti dikutip CNBC. "Kita pernah melihat hal serupa saat konflik Ukraina: S&P 500 anjlok 6%, dan harga minyak melonjak tajam."
Dalam pidato Sabtu malam dari Gedung Putih, Trump menegaskan, “Akan ada perdamaian, atau akan ada tragedi bagi Iran yang jauh lebih besar daripada yang telah kita saksikan dalam delapan hari terakhir.”
Pelaku pasar kini bersiap atas kemungkinan pembalasan Iran. Serangan terhadap personel AS di pangkalan militer sekitar atau bahkan penutupan Selat Hormuz—jalur strategis bagi pasokan energi dunia—dapat mengerek harga minyak melampaui $100 per barel.
Baca Juga
Dalam wawancara Minggu malam di Fox News, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio meminta pemerintah Tiongkok agar menekan Iran untuk tidak menutup selat tersebut, mengingat Beijing adalah pembeli minyak terbesar dari Teheran.
“Dengan keterlibatan langsung AS, harga dasar minyak kini bergeser ke kisaran pertengahan $80-an per barel. Ini menandai transisi dari konflik regional satu pihak ke konflik yang dikelola langsung oleh AS,” kata Ahmad Assiri, analis dari Pepperstone. “Bahkan jika Iran tidak benar-benar menutup selat atau menyerang kapal tanker, peningkatan probabilitas dari 5% ke sekitar 15% saja sudah cukup menambah premi harga minyak.”
Sementara itu, indeks S&P 500 mencatat penurunan mingguan sebesar 0,15%, menjadi minggu negatif kedua berturut-turut. Meski begitu, indeks acuan ini masih berada sekitar 3% dari rekor tertinggi.
Baca Juga
Wall Street Loyo, Investor Cermati Gejolak Timur Tengah dan Arah Kebijakan Trump
Namun lonjakan harga minyak dan potensi perang besar di Timur Tengah menjadi risiko baru bagi pasar saham dan perekonomian AS—yang sebelumnya sudah dibayangi ketidakpastian akibat restrukturisasi besar-besaran perdagangan global oleh Trump sepanjang tahun ini.

