Israel Serang Ladang Gas Terbesar Iran, Harga Minyak Melonjak
TEL AVIV, investortrust.id – Israel dan Iran kembali saling melancarkan serangan udara dan rudal pada Sabtu malam, memperbesar kekhawatiran pasar global atas potensi konflik kawasan yang lebih luas setelah Israel memperluas kampanyenya dengan menargetkan infrastruktur energi strategis Iran.
Pemerintah Teheran membatalkan perundingan nuklir yang dijadwalkan berlangsung di Oman, langkah yang sebelumnya dipandang Washington sebagai satu-satunya jalur diplomatik untuk meredam eskalasi. Sebaliknya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa serangan saat ini "belum seberapa dibandingkan dengan apa yang akan Iran alami dalam beberapa hari ke depan."
Dilansir Reuters, militer Israel telah mengonfirmasi peluncuran rudal tambahan dari Iran pada Sabtu malam (14/6/2025), sementara serangan udara Israel kembali diarahkan ke sejumlah target militer di Teheran. Televisi pemerintah Iran membalas dengan laporan bahwa rudal dan drone telah diluncurkan ke wilayah Israel.
Saling Hantam Infrastruktur
Sebuah rudal menghantam rumah dua lantai di Haifa, menewaskan seorang perempuan berusia 20-an dan melukai 13 orang lainnya. Di Iran, serangan Israel mengakibatkan kebakaran di depot minyak Shahran di Teheran, meski otoritas mengklaim situasi kini terkendali.
Serangan juga mencapai ladang gas South Pars di Provinsi Bushehr, fasilitas gas terbesar di dunia yang menyumbang mayoritas produksi gas Iran. Media Tasnim melaporkan adanya gangguan produksi akibat kebakaran di fasilitas tersebut.
Iran melaporkan bahwa total 78 orang tewas pada hari pertama serangan Israel, dan puluhan lainnya menyusul pada hari kedua. Termasuk di antaranya adalah 60 korban jiwa saat rudal menghancurkan sebuah apartemen 14 lantai di Teheran—29 di antaranya adalah anak-anak.
Sebagai respons, Iran meluncurkan rudal balasan pada Jumat malam yang menewaskan sedikitnya tiga orang di Israel.
Serangan terhadap sektor energi Iran langsung berdampak pada sentimen pasar. Harga minyak melonjak hingga 9% pada Jumat setelah Israel mulai melancarkan serangan, meskipun hari pertama belum menyasar ladang minyak dan gas secara langsung.
Pernyataan Jenderal Esmail Kosari bahwa Iran tengah mempertimbangkan penutupan Selat Hormuz - jalur kritikal bagi ekspor minyak dunia - menambah kecemasan pasar atas potensi disrupsi rantai pasok global.
Dinamika Politik dan Geopolitik
Netanyahu dalam pernyataan resminya mendesak rakyat Iran untuk “bangkit melawan para penguasa ulama mereka”, menandai potensi kampanye jangka panjang yang dapat berlangsung selama beberapa minggu.
Di sisi lain, kelompok HAM Israel B’Tselem mengecam keputusan pemerintahan Netanyahu yang dinilai memilih jalur militer alih-alih diplomasi. “Pemerintah telah memilih perang yang mengancam stabilitas seluruh kawasan,” ujar pernyataan resmi lembaga tersebut.
Iran memperingatkan bahwa pangkalan militer negara-negara sekutu Israel di kawasan juga bisa menjadi target jika mereka ikut campur dalam konflik ini. Namun, kemampuan Iran untuk membalas secara regional diyakini telah menurun drastis setelah Hamas di Gaza dan Hizbullah di Lebanon mengalami kerugian besar dalam dua tahun terakhir.
Israel menyatakan serangan mereka bertujuan menggagalkan tahapan akhir pengembangan senjata nuklir Iran, yang dianggap sebagai ancaman eksistensial. Meski Iran bersikeras bahwa program nuklirnya murni untuk kepentingan sipil, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) pekan ini melaporkan sejumlah pelanggaran Iran terhadap perjanjian non-proliferasi global.
Dengan ketegangan yang terus meningkat dan saling tuding tak kunjung reda, kawasan Timur Tengah kembali menjadi titik panas geopolitik yang mengancam kestabilan energi global dan memicu aksi jual di pasar keuangan.

