Harga Batu Bara Turun Tipis di Tengah Eskalasi Perang Iran-Israel
JAKARTA, investortrust.id - Harga batu bara mengalami penurunan pada penutupan perdagangan Jumat (20/6/2025), di tengah eskalasi konflik bersenjata antara Iran dengan Israel.
Dikutip dari Tradingeconomics, harga batu bara saat ini berada di posisi US$ 106,60 per ton. Angka tersebut turun tipis 0,37% jika dibandingkan hari sebelumnya yang berada di posisi US$ 107 per ton.
Sementara itu, harga batu bara Newcastle naik ke level US$ 106 per ton pada Juni, tertinggi setelah mencapai titik terendah empat tahun di US$ 93,7 pada akhir April di tengah tanda-tanda sedikit peningkatan permintaan.
Data perdagangan menunjukkan impor batu bara termal melalui laut dari konsumen utama India dan China meningkat ke titik tertinggi lima bulan pada bulan Mei.
Baca Juga
IMA Optimistis Prospek Batu Bara RI Tetap Bersinar Meski Dunia Hijrah ke Energi Bersih
Hal ini sejalan dengan panggilan perencana negara China untuk pembangkit listrik untuk mengisi kembali stok domestik sebesar 10% untuk memanfaatkan harga yang lebih rendah.
Kontrak Newcastle bulan depan turun lebih dari 15% dalam setahun di tengah kelebihan pasokan batu bara termal yang berlanjut. Output pembangkit listrik bahan bakar fosil China turun 4,7% secara tahunan pada kuartal pertama di tengah permintaan listrik yang lebih rendah dan pasokan kuat dari sumber energi terbarukan.
Di sisi pasokan, produksi dalam negeri di China naik 4% dari tahun sebelumnya pada bulan Mei, sejalan dengan sinyal sebelumnya bahwa China berencana untuk meningkatkan produksi sebesar 1,5% menjadi 4,82 miliar ton tahun ini setelah jumlah produksi rekor pada tahun 2024.
Menurut Direktur Eksekutif Indonesian Mining Association (IMA) Hendra Sinadia, konflik bersenjata di Timur Tengah sejatinya tidak mengganggu ekspor batu bara Indonesia. Sebab, tujuan ekspor batu bara Indonesia adalah negara-negara Asia Timur dan Asia Selatan, seperti China dan India.
“Sejauh ini belum ada dampaknya bagi ekspor Indonesia yang sebagian besar tujuan ekspor kita ke Asia Timur dan Asia Selatan,” kata Hendra Sinadia, Senin (23/6/2025)

