Rupiah Menguat Terbatas Gegara Perang Iran-Israel, Apa Hubungannya dengan Trump dan Putin?
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar atau kurs rupiah menguat terbatas pada penutupan perdagangan Senin (16/6/2025) sore ini gegara indeks dolar Amerika Serikat (AS) imbas gejolak di Timur Tengah antara Iran dan Israel.
Muncul laporan bahwa Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin tengah bersiap untuk menjadi mediator dalam meredakan ketegangan di kawasan itu.
Berdasarkan data Bloomberg, kurs rupiah menguat 38 poin (0,24%) ke level Rp 16.265 per dolar AS.
Menurut Ekonom Senior PT Bank Permata Tbk Faisal Rachman, penguatan terbatas ditopang sentimen pasar yang mulai pulih meskipun konflik Israel-Iran masih berlangsung. Pemulihan ini didukung data penjualan ritel China yang lebih baik dari perkiraan, yang kembali memicu sentimen risk-on di kawasan Asia.
"Kekhawatiran terhadap konflik yang berkepanjangan mereda setelah muncul laporan bahwa Donald Trump dan Vladimir Putin tengah bersiap untuk menjadi mediator dalam upaya meredakan ketegangan di kawasan tersebut," ungkapnya kepada Investortrust, Senin (16/6/2025).
Meski pemerintahan AS di bawah Presiden Trump, mendukung sikap Israel, AS memveto rencana operasi Israel yang menargetkan langsung pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Khamenei, dengan alasan kekhawatiran potensi destabilisasi kawasan.
Baca Juga
Konflik Israel-Iran Tak Goyahkan Bursa Asia, Investor Tunggu Data Ekonomi China
Sebelumnya harga minyak mentah global melonjak tajam pada perdagangan Jumat (13/6/2025), menyusul saling serang antara Israel dan Iran. Konflik langsung dua negara ini meningkatkan kekhawatiran pasar atas potensi gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah, pusat produksi, dan ekspor energi dunia.
Harga minyak Brent kontrak Agustus ditutup melonjak 7,02% ke level US$74,23 per barel, setelah sempat menyentuh intraday high US$ 78,50, posisi tertingginya sejak 27 Januari. Dalam sepekan lalu, Brent telah menguat 12,5%.
Baca Juga
Konflik Israel-Iran Alihkan Fokus KTT G7, Para Pemimpin Dunia Hadapi Ujian Soliditas
Sedangkan harga emas dunia melonjak pada perdagangan Jumat (13/6/2025) waktu setempat, seiring memuncaknya ketegangan geopolitik setelah Israel meluncurkan gelombang serangan udara terhadap fasilitas nuklir dan militer di Iran. Lonjakan permintaan aset lindung nilai mendorong logam mulia tersebut mendekati rekor tertingginya.
Harga emas naik 1,3% menjadi US$ 3.428,10 per ons, hanya terpaut tipis dari rekor tertinggi sepanjang masa US$ 3.500,05 yang dicapai pada April lalu. Dalam sepekan terakhir, emas telah menguat sekitar 4%. Sedangkan harga emas berjangka AS ditutup naik 1,5% ke US$ 3.452,80 per ons.

