ASEAN Harus Diperluas dan Bersatu Tangkal Tarif Trump
Oleh Tri Winarno,
mantan Ekonom Senior
Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter
Bank Indonesia
INVESTORTRUST.ID - Ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump akhirnya melancarkan serangan tarif tinggi yang telah lama dilontarkan ancamannya, skala dan cakupannya jauh lebih buruk dari yang diperkirakan sebagian besar pemerintah. Bila Tiongkok akan menjadi yang paling terpukul tidak mengherankan, tetapi bea masuk memberatkan yang dikenakan pada sebagian besar negara Asia merupakan kejutan luar biasa.
Untungnya, dengan pasar keuangan terpuruk, Trump mengumumkan penangguhan selama 90 hari pada sebagian besar tarif 'timbal balik' hanya beberapa jam setelah diberlakukan. Pemerintah Asia yang diuntungkan dari penangguhan ini sekarang harus menggunakan waktu yang diperoleh untuk membentuk tanggapan yang lebih bersatu, serta mengambil inisiatif berani yang memberi lebih banyak pengaruh terhadap Amerika.
Bayangkan, tarif yang awalnya dikenakan pada Sri Lanka mencapai 44%, padahal baru beberapa tahun mengalami krisis politik dan ekonomi yang memaksa presidennya melarikan diri dan mendorong ekonominya ke ambang kehancuran. Mengingat AS adalah pasar ekspor terbesar Sri Lanka, tarif "Hari Pembebasan" Trump akan memberikan pukulan telak bagi pemulihan negara tersebut ketika (saya ragu untuk mengatakan "jika") tarif tersebut dikenakan.
Baca Juga
Negara-negara Asia lainnya tidak jauh lebih baik, dan beberapa di antaranya bahkan lebih terpukul, dengan tarif 49% untuk Kamboja, 48% untuk Laos, dan 46% untuk Vietnam. Begitu beratnya usulan bea masuk ini, sehingga orang mungkin bertanya-tanya apakah Trump mengompensasi penghindarannya dari dinas militer dalam Perang Vietnam dengan melancarkan perang ekonomi terhadap negara-negara Indochina yang terlibat dalam konflik tersebut.
Sekarang setelah pemerintah Vietnam dengan cepat mengibarkan bendera putih dengan menawarkan untuk menghapus semua bea masuk atas impor AS dan setuju memulai perundingan perdagangan selama jeda, Trump pasti sudah berpikir ia telah menang. Di sisi lain, upaya Vietnam untuk menenangkan Trump tidak akan memberikan banyak keuntungan bagi negara tersebut, jika memang ada, karena Trump tidak pernah bernegosiasi dengan itikad baik. Lebih buruk lagi, tindakan negara tersebut menetapkan standar yang tinggi – setidaknya di mata para negosiator perdagangan pemerintah AS – atas apa yang diharapkan dari mitranya di Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN).
Peran Anwar Ibrahim
Namun, Ketua ASEAN saat ini, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, masih dapat mengerahkan seluruh kekuatan blok untuk menghadirkan front persatuan dan mengembangkan inisiatif kebijakan yang dapat membantu melindungi anggota dari gangguan ekonomi yang disebabkan tarif Trump. Hal ini sejalan dengan upaya Anwar sebagai ketua ASEAN untuk memperdalam integrasi ekonomi dalam blok tersebut dan menjalin hubungan komersial yang lebih erat dengan Dewan Kerja Sama Teluk dan ekonomi Asia lainnya.
KTT ASEAN yang diselenggarakan Anwar pada bulan Mei akan menjadi ajang untuk memajukan agenda ini. Para pemimpin yang berkumpul kemungkinan akan berbicara tentang diversifikasi kemitraan perdagangan – salah satu hal terbaik yang dapat dilakukan negara atau blok mana pun saat menghadapi tekanan seperti yang diterapkan AS. Namun, mereka juga harus mencari cara lain untuk memajukan kerja sama regional dan meningkatkan ketahanan ekonomi mereka.
Di sini, ASEAN dapat meniru buku pedoman Uni Eropa, meski tidak mengejar tujuan yang sama yaitu "persatuan yang semakin erat" dan perluasan sebagai cara untuk meningkatkan stabilitas di sepanjang perbatasan. Mungkin contoh yang paling jelas adalah perluasan "big bang" Uni Eropa tahun 2004, ketika menerima sepuluh negara, terutama yang di Eropa Tengah dan Timur. Jangkauan blok tersebut yang berkelanjutan ke negara-negara Balkan dan Ukraina, serta upayanya untuk merangsang pembangunan ekonomi di Afrika Utara, merupakan bagian dari strategi ini.
Baca JugaIndeks Dolar Melemah, Rupiah Cetak Rekor Terendah Rp 16.869/USD
ASEAN juga telah memulai negosiasi aksesi dengan Timor-Leste, yang jika diterima (seperti yang diharapkan banyak pihak), akan menjadi anggota termiskin di blok tersebut. Namun, keanggotaan akan membantu Timor-Leste mendiversifikasi ekonominya dan memungkinkannya bekerja sama dengan mitra baru.
PM Anwar dan para diplomatnya telah membuat kemajuan yang mengesankan dalam perundingan aksesi dengan Timor-Leste, dan terobosan selama masa kepemimpinan Anwar akan meningkatkan prestise internasional ASEAN pada saat yang krusial, plus membantu memperkuat stabilitas dan keamanan regional. Jika Anwar ingin lebih berani, ia harus mencari anggota baru di luar kawasan blok tersebut yakni Sri Lanka.
Memang, produk domestik bruto (PDB) per kapita Sri Lanka akan menempatkannya di posisi setengah terbawah negara-negara anggota ASEAN. Namun, lokasinya di Samudra Hindia akan memberi akses bagi bisnis-bisnis ASEAN ke ekonomi kawasan yang sedang berkembang pesat. Dengan Indo-Pasifik yang ditakdirkan menjadi pusat ekonomi dunia pada abad ke-21, posisi strategis Sri Lanka dapat menjadi pendorong kuat bagi perdagangan dan investasi. Dan Sri Lanka sendiri menawarkan banyak peluang investasi bagi perusahaan-perusahaan konstruksi, logistik, dan teknologi ASEAN.
Melawan Trump – atau negara adikuasa lain yang mungkin muncul – membutuhkan keterlibatan dari posisi yang kuat. Perluasan ASEAN – dengan segera menerima Timor-Leste dan membuka pembicaraan dengan Sri Lanka – akan memajukan tujuan ini. Dalam pertemuan Trump yang terkenal di Ruang Oval dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, ia berulang kali mengatakan kepada tamunya, “Anda tidak punya kartu.”
ASEAN, pada bagiannya, justru punya kartu untuk dimainkan ketika berhadapan dengan pemerintahan AS, asalkan bersatu. Memperluas blok akan memperkuat posisi dan daya tawar ASEAN.
Banyuwangi, 21 April 2025

