Airlangga Pastikan Impor Produk Pertanian AS Tak Ganggu Swasembada Pangan
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan, Indonesia berencana mengimpor produk pertanian, seperti gandum, kedelai, dan soybean meal (bungkil kedelai) dari Amerika Serikat (AS) sebagai bagian negosiasi tarif impor 32% Presiden AS Donald Trump.
Meski demikian, Airlangga memastikan, importasi tiga komoditas pertanian AS itu tidak akan mengganggu program swasembada pangan yang digaungkan Presiden Prabowo Subianto.
Baca Juga
“Selama ini baik gandum, soybean, dan soybean meal, kita juga impor, tetapi tidak hanya dari AS, tetapi dari Australia dan Ukraina,” kata Airlangga dalam konferensi pers Kamis (17/4/2025) waktu Washington DC, AS atau Jumat (18/4/2025) waktu Indonesia.
Airlangga menjelaskan, pemerintah hanya melakukan pengalihan impor bahan baku pangan tersebut.
Ketua Umum Wahana Masyarakat Tani Nelayan Indonesia (Wamti) Agusdin Pulungan berpandangan meski tidak mudah, pengalihan impor kedelai dari dominasi AS harus segera dilakukan. Sebab, dalam jangka panjang, perpindahan ini menjadi langkah strategis bagi kelangsungan industri tahu tempe di Indonesia, yang menyediakan sumber protein nabati lezat, murah, dan kaya nutrisi.
“Dengan demikian, kita tidak gampang dipermainkan oleh kepentingan dan keputusan AS secara sepihak dan mendadak,” ujar Agusdin.
Agusdin menjelaskan, sekitar 80% kebutuhan kedelai Indonesia masih harus dipenuhi dari impor. Volume impor kedelai pada 2023 sekitar 2,27 juta ton senilai US$ 1,47 miliar (Rp 24,35 triliun). Adapun negara pemasok terbesar adalah AS.
“Kita juga mesti ingat, pada 1980, pemerintahan Presiden AS Jimmy Carter pernah memberlakukan embargo gandum terhadap Uni Soviet dengan dalih merespons invasi negara itu ke Afghanistan. Diversifying suppliers is a key risk mitigation strategy!” ujar dia.
Saat ini, tim negosiasi tarif impor AS yang beranggotakan Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Luar Negeri Sugiono, Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono, Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mari Elka Pangestu sedang berada di Washington DC, AS untuk melakukan perundingan kerja sama perdagangan pascapenetapan tarif resiprokal sebesar 32% untuk Indonesia.
Baca Juga
Airlangga: Indonesia-AS Sepakat Negosiasi Tarif Rampung dalam 60 Hari
Pemerintah Indonesia menargetkan negosiasi tarif impor yang ditetapkan AS dapat selesai dalam 60 hari. Pemerintah mengeklaim proses perundingan sudah menyepakati format perjanjian antara kedua negara.
Beberapa topik yang masuk dalam perjanjian bilateral, yaitu kemitraan perdagangan, investasi, kerja sama mineral penting, dan reliabilitas rantai pasok yang mempunyai resiliensi tinggi.

