Menavigasi Badai Trump
Oleh Tri Winarno,
mantan Ekonom Senior
Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter
Bank Indonesia
INVESTORTRUST.ID - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump periode kedua bertepatan dengan periode perubahan struktural dan teknologi yang cepat, yang didorong oleh tiga tren. Pertama, guncangan akibat pandemi, perang baru, perubahan iklim, dan ketegangan geopolitik terus bergema di seluruh ekonomi global.
Kedua, tren sekuler yang lebih luas terus menghambat pertumbuhan dan menciptakan tekanan inflasi baru. Ketiga, terobosan ilmiah dan teknologi mengubah berbagai sektor, dari layanan digital dan bioteknologi hingga energi.
Baca Juga
AS Melambungkan Tarif Impor Cina 145%, Rupiah Lanjut Menguat
Respons terhadap tren ini mengubah lingkungan bisnis dan kebijakan global secara drastis. Ketahanan dan keamanan nasional menjadi prioritas utama. Jaringan pasokan berkembang pesat.
Inflasi pun telah menjadi isu utama untuk pertama kalinya dalam tiga dekade. Semua itu terjadi, sebelum Trump kembali ke Gedung Putih Januari tahun ini.
Defisit Perdagangan Dinilai Masalah
Meski serangkaian perintah eksekutif Trump tampak kacau, pemerintahannya mungkin sedang menjalankan strategi yang lebih besar, yang dirancang untuk mengencerkan dan melemahkan potensi oposisi. Trump dan orang lain dalam pemerintahannya telah berulang kali berpendapat bahwa defisit perdagangan bilateral merupakan sinyal ada sesuatu yang salah – bahwa Amerika Serikat sedang dimanfaatkan, sehingga merugikan beberapa industri dan keamanan nasional.
Di antara mitra dagang AS teratas, surplus bilateral terbesar (berdasarkan data 2023) adalah Tiongkok (US$ 279 miliar), Uni Eropa (US$ 209 miliar), Meksiko (US$ 152 miliar), Vietnam (US$ 104 miliar), Jepang (US$ 71 miliar), dan Kanada (US$ 64 miliar, yang seluruhnya berasal dari impor energi AS). Keempat negara yang menjadi sasaran tarif awal Trump – Kanada, Meksiko, UE, dan Tiongkok – menyumbang 66% dari keseluruhan defisit perdagangan AS 2023 (US$ 1,06 triliun). Jika Anda menambahkan Jepang dan Vietnam, angka itu tumbuh menjadi 83%.
Baca Juga
Terdampak Terbesar: AS
Tarif “Hari Pembebasan” secara umum konsisten dengan penargetan mitra dagang dengan defisit besar. Tarif baru untuk Tiongkok, Uni Eropa, Vietnam, serta Jepang masing-masing adalah 34%, 20%, 46%, serta 24%, dan Kanada serta Meksiko akan tetap berada di jalur yang berbeda untuk saat ini, dengan tarif tinggi untuk mobil, baja, dan aluminium.
Namun, tarif yang diumumkan pada tanggal 2 April itu jauh melampaui penargetan mitra dagang yang mengalami defisit besar dengan AS. Sebaliknya, pemerintah menerapkan tarif 10% secara menyeluruh, termasuk ke negara-negara yang memiliki surplus perdagangan dengan AS. Selain itu, pemerintah Trump mengenakan tarif tambahan di atas 10% pada berbagai negara ekonomi kecil yang memiliki dampak minimal pada neraca perdagangan AS, meski negara-negara ekonomi utama Amerika Latin (selain Meksiko) dikecualikan.
Reaksi pasar keuangan langsung terjadi. Dalam dua hari perdagangan setelah Hari Pembebasan, S&P 500 turun sebesar US$ 5 triliun, atau sekitar 10%. Kepercayaan bisnis dan konsumen terus menurun, dan pasar di luar AS juga menurun, yang mencerminkan dominasi sistem keuangan AS.
Tiongkok menanggapi dengan tarifnya sendiri sebesar 34% atas impor produk AS, kemudian dinaikkan menjadi 84% dan meningkat lagi menjadi 125%, efektif mulai Sabtu 12 April 2025. Sejumlah negara-negara lain juga mempertimbangkan tindakan pembalasan.
Dengan ketidakpastian pasar dan ekonomi yang semakin dalam, ekspektasi akan terjadinya resesi telah meningkat. Meski demikian, dampaknya kemungkinan besar akan terbesar di AS dan di negara-negara mitra dagang yang paling banyak terpapar permintaan AS.
Karena ekonomi AS menyumbang sekitar 26% dari produk domestik bruto (PDB) global nominal, atau 15-16% dengan penyesuaian paritas daya beli, maka memagarinya akan memberikan guncangan besar pada seluruh sistem. Sementara setiap negara kecuali AS akan menghadapi tarif atas ekspor yang masuk ke AS, sehingga akan ada berbagai tingkat paparan: Tiongkok sedang, Vietnam cukup tinggi, dan Meksiko serta Kanada sangat tinggi. Untungnya, negara-negara lain masih memiliki negara lain untuk penjualan barang, dan negara lain ini juga tidak kecil.
Sebaliknya, konsumen dan perusahaan AS akan menghadapi tarif masuk untuk semua barang dari negara lain di dunia. Perusahaan juga kemungkinan akan menghadapi tarif 'timbal balik' yang lebih tinggi, ketika mereka mencoba mengakses pasar eksternal. Selain itu, negara-negara besar mungkin membatasi investasi langsung asing (FDI) ke AS, yang sebagian menggagalkan salah satu tujuan yang dinyatakan pemerintahan Trump untuk skema tarif baru AS.
Dengan kata lain, meski kerusakannya akan meluas dan bervariasi di berbagai negara dan kawasan, dampak terbesar kemungkinan besar justru akan terjadi pada ekonomi AS. Ini karena semakin terisolasinya AS dari ekonomi global lainnya.
Tidak jelas apakah pemerintah AS yakin bahwa tarif akan mengarah pada penyeimbangan kembali perdagangan, atau apakah tarif dirancang untuk mendorong mitra dagang dan bisnis mengalihkan produksi dan lapangan kerja ke AS. Trump sendiri mendukung FDI sebagai cara untuk mendukung agendanya mengatasi defisit dan masalah lapangan kerja, dan tarif mungkin menambah insentif lainnya.
Apa pun pendapat orang tentang diagnosis dan pengobatan yang ditentukan oleh pemerintah, tujuannya jelas: untuk mengubah struktur perdagangan global dan FDI demi investasi dan lapangan kerja domestik AS. Namun, agenda ini menghadapi hambatan yang kuat, karena daya tarik global utang dan ekuitas AS, serta status dolar sebagai mata uang cadangan internasional. Kecuali jika AS secara sengaja mengurangi daya tarik aset berdenominasi dolar, yang akan memerlukan penutupan sebagian rekening modal, status mata uang cadangan dolar tidak mungkin berubah.
Bagaimanapun, tidak ada alternatif yang masuk akal untuk sistem saat ini. Ekonomi global yang sedang tumbuh membutuhkan basis moneter yang berkembang, agar dapat berfungsi. Daripada mengurangi defisit perdagangannya sebesar US$ 1 triliun, AS lebih cenderung mendistribusikannya kembali ke berbagai negara, yang mungkin tidak akan mengarah pada jenis restrukturisasi domestik yang dibayangkan Trump.
Tiongkok Tahan Guncangan, AS?
Sementara itu, Cina dengan ekonomi domestiknya yang besar, dapat menahan guncangan tarif. Tiongkok yang sudah perlu meningkatkan permintaan agregat domestiknya ini pasti juga akan melihat penghentian pendanaan penelitian sains dan teknologi dasar di universitas-universitas AS oleh pemerintahan Trump sebagai keuntungan tak terduga, mengingat kerusakan yang akan ditimbulkan pada daya saing jangka panjang AS.
Teknologi merupakan variabel utama di sini. Para ahli telah lama menunjukkan bahwa putaran adopsi teknologi digital sebelumnya memberikan tekanan ke bawah pada pekerjaan dan pendapatan 'rutin' kelas menengah. Apakah hal itu akan menjadi ciri adopsi artificial intelligence (AI) dalam ekonomi masih menjadi pertanyaan terbuka saat ini. Meski belum ada yang memiliki peta jalan terperinci tentang bagaimana hal tersebut akan terjadi, masuk akal untuk mengharapkan bahwa dampaknya bisa sama besar atau lebih besar daripada yang terkait dengan pola perdagangan dan investasi global baru.
Jika pemerintahan Trump memiliki strategi untuk mengelola tantangan ini, mereka belum mengungkapkannya. Namun, keliru jika berasumsi bahwa restrukturisasi perdagangan dan investasi internasional akan cukup menguntungkan pekerja AS. Ada kekuatan lain yang berperan, dan para pembuat kebijakan akan menanggung risiko jika mengabaikannya.
Banyuwangi, 11 April 2025

