Antisipasi Kebijakan Trump, Pemerintah Front Loading Tarik Utang 40,6% Target APBN
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menjelaskan tidak akan memperlebar defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 yang mencapai 2,53% dari produk domestik bruto (PDB) atau Rp 616,2 triliun. Untuk menutup defisit dan antisipasi kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melakukan front loading dengan sudah menarik utang senilai Rp 250 triliun hingga Maret, atau 40,6% dari target pembiayaan anggaran 2025.
“Sampai sekarang, untuk pembiayaan, kita bisa issue Rp 250 triliun. Target pembiayaan anggaran 2025 sebesar Rp 616,2 triliun,” kata Sri Mulyani di Sarasehan Ekonomi Bersama Presiden Republik Indonesia, yang digelar di Menara Mandiri, Jakarta, Selasa (08/04/2025).
Baca Juga
Sri Mulyani menjelaskan penarikan utang baru di tiga bulan pertama tahun ini karena pemerintah mengantisipasi gejolak pasar keuangan dunia akibat kebijakan tarif impor Amerika Serikat. Pernyataan ini membantah bahwa penerbitan utang di awal tahun secara agresif dilakukan karena menurunnya penerimaan.
“Kita melakukan front loading untuk mengantisipasi bahwa Pak Trump akan membuat banyak disrupsi,” kata dia.
Baca Juga
Menkeu Sri Umumkan Realisasi APBN Defisit Rp 104,2 Triliun per Maret
Prudent
Melihat kondisi itu, mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini mengatakan akan tetap menjaga utang dan defisit APBN tetap prudent dan transparan. Dengan begitu, credit rating dan outlook Indonesia tetap terjaga.
Ia menuturkan, APBN ini sebagai instrumen untuk membiayai banyak program-program penting Presiden Prabowo Subianto. Sejumlah program yang dibiayai APBN, antara lain, subsidi pupuk 1,3 juta ton di awal 3 bulan pertama, ketahanan energi, subsidi bahan bakar minyak (BBM), subsidi listrik, dan Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Bahkan ada inisiatif-inisiatif baru. Itu semua dibiayai di dalam amplop APBN. Jangan khawatir, tidak jebol APBN-nya,” ujar dia.
Berdasarkan paparannya dalam postur APBN Januari-Maret 2025, realisasi defisit tercatat Rp 104,2 triliun atau 16,9% dari total target defisit setahun. Angka ini mengalami perubahan yang signifikan dibandingkan periode sama 2024. Pada periode Januari-Maret 2024, APBN mencatatkan surplus Rp 8,1 triliun.
Baca JugaMenkeu Sri Umumkan Realisasi APBN Defisit Rp 104,2 Triliun per Maret
Berbeda dengan 2024, kondisi pendapatan negara pada tahun ini mengalami kontraksi. Pendapatan negara pada triwulan I-2025 tercatat sebesar Rp 516,1 triliun atau turun 16,7% dibandingkan 2024 yang mencapai Rp 620,1 triliun.
Kontraksi penerimaan perpajakan, yang menjadi tulang punggung pembiayaan belanja pemerintah, menjadi penyebabnya. Catatan Kemenkeu, realisasi penerimaan perpajakan sebesar Rp 400,1 triliun atau 16,1% dari APBN 2025. Angka ini terdiri dari realisasi penerimaan pajak sebesar Rp 322,6 triliun serta kepabeanan dan cukai sebesar Rp 77,5 triliun. Sementara, realisasi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sebesar Rp 115,9 triliun.
Angka penerimaan perpajakan periode tiga bulan pertama tahun ini terkontraksi sebesar 13,56% jika dibandingkan periode yang sama 2024. Pada Januari-Maret 2024, penerimaan perpajakan tercatat sebesar Rp 462,91 triliun terdiri dari penerimaan pajak sebesar Rp 393,91 triliun dan kepabeanan dan cukai sebesar Rp 69 triliun. Sementara, PNBP sebesar Rp 156,7 triliun dan hibah sebesar Rp 0,41 triliun.
Sedangkan dari sisi belanja negara, terjadi kenaikan. Pada Januari-Maret 2024, belanja negara tercatat sebesar Rp 611,94 triliun dan tahun ini naik 1,36% pada periode yang sama menjadi Rp 620,3 triliun.
"Keseimbangan primer per Maret 2025 tercatat sebesar Rp 17,5 triliun. Sedangkan pada Maret 2024, keseimbangan primer tercatat Rp 122,09 triliun," paparnya.
Penerbitan SBN
Sri Mulyani juga menjelaskan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) RI pada tiga bulan pertama tahun ini sudah mencapai 44% dari target 2025 sebesar Rp 642,6 triliun. Nilainya sekitar Rp 282,6 triliun.
Sementara itu, berdasarkan data Bank Indonesia, yield SBN tercatat menurun hingga 27 Maret. "Yield SBN 10 tahun turun ke 7,13% pada Rabu, 26 Maret 2025. Pada pagi hari Kamis, 27 Maret, yield SBN 10 tahun turun lagi ke 7,09%," papar Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso.

