Menkeu: Pertumbuhan Ekspor pada Kuartal II-2025 Diduga karena Front Loading
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekspor Indonesia sebesar 10,67% secara tahunan pada kuartal II-2025 kemungkinan besar dipicu oleh fenomena front loading, terutama menjelang pemberlakuan tarif impor baru oleh Amerika Serikat.
Front loading merupakan langkah percepatan atau percepatan pengiriman barang ekspor ke negara tujuan sebelum kebijakan atau hambatan perdagangan baru diberlakukan, seperti tarif, bea masuk, atau pembatasan impor.
“Nampaknya ini menggambarkan front loading ekspor ke Amerika Serikat. Jadi mumpung baru diumumkan, belum diberlakukan karena pemberlakuannya 7 Agustus ini,” ujar Sri Mulyani dalam paparan kinerja pertumbuhan ekonomi kuartal II-2025 di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa (5/8/2025).
Menurutnya, terjadinya lonjakan pengiriman barang ekspor sebelum kebijakan tarif resmi berlaku, sedikit banyak mendorong angka pertumbuhan ekspor pada periode tersebut. Bagi Sri Mulyani, langkah front loading ini bisa menjelaskan mengapa terjadi pertumbuhan ekspor pada kuartal II-2025.
Ia juga menyebutkan bahwa keputusan Presiden AS untuk menetapkan tarif sebesar 19%—lebih rendah dari rencana awal—diharapkan bisa menjaga momentum pertumbuhan ekspor Indonesia pada kuartal III dan IV mendatang.
Di sisi lain, ekspor jasa juga mencatat pertumbuhan signifikan sebesar 11,17% secara tahunan, yang ditopang oleh peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara. Sementara itu, impor tumbuh 12,17% terutama pada bahan baku dan barang modal, memberikan sinyal positif terhadap prospek pertumbuhan sektor manufaktur dalam waktu dekat.
Baca Juga
Fenomena Shifting ke Belanja Online Dorong Pertumbuhan Industri Ritel
“Impor jasa, terutama yang berkaitan dengan mobilitas wisatawan mancanegara, tumbuh 8,43% secara tahunan,” jelas Sri Mulyani.
Dari sisi produksi, sektor industri pengolahan mengalami pertumbuhan 5,68% yang dipacu oleh kegiatan hilirisasi serta permintaan domestik. Industri logam dasar bahkan mencatat pertumbuhan tinggi sebesar 14,9%, terutama karena permintaan ekspor.
“Untuk industri makanan dan minuman, tumbuh 6,2%, terutama didorong oleh CPO dan minyak goreng. Kita harap MBG dan permintaan ekspor memberikan dukungan,” tambahnya.
Sementara itu, industri kimia mengalami pertumbuhan 9,4% yang dipengaruhi oleh ekspansi industri kesehatan. Peningkatan belanja pemerintah di sektor kesehatan turut mendorong permintaan di industri ini.

