BI Intervensi, Rupiah Rekor Lagi Terburuk Rp 16.859/US$, IHSG Jatuh Trading Halt
JAKARTA, investortrust.id - Meski sudah diantisipasi dengan intervensi agresif Bank Indonesia (BI), rupiah masih langsung merosot sejak perdagangan dibuka di pasar spot valas Selasa (08/04/2025) pagi, atau hari pertama setelah libur panjang dan cuti bersama Nyepi dan Lebaran 28 Maret-7 April. Hal ini seiring tekanan sentimen pengumuman kenaikan tarif impor dasar yang diberlakukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjadi 10% pada 5 April dan melonjak lagi jadi 32% untuk tarif resiprositas atas barang Indonesia. Penetapan skema tarif baru itu diumumkan pada 2 April waktu AS, di mana pasar domestik RI masih libur.
Berdasarkan data Yahoo Finance, nilai tukar rupiah melemah 280 poin atau 1,69% pada Selasa pukul 10.15 WIB ke level Rp 16.834 per dolar AS, dibanding hari perdagangan sebelumnya. Bahkan, siang ini mencetak lagi rekor baru terburuk sepanjang masa ke Rp 16.859 per dolar AS atau merosot 305 poin (1,84%) pukul 14.28 WIB, sehingga sudah terdepresiasi 4,81% secara year to date atau baru sekitar 3 bulan. Sebelumnya, pada pembukaan perdagangan pagi, mata uang Garuda sudah mencetak rekor terendah dalam sejarah di Rp 16.849 per dolar AS.
Rupiah juga sempat terperosok di level terendah terhadap euro sepanjang masa pada Selasa siang, ke Rp 18.506. Namun, pada pukul 15.28 WIB, rupiah sedikit membaik ke Rp 18.436 per euro, atau turun 732 poin (2,06%).
Sedangkan berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, perdagangan saham domestik hari pertama setelah libur panjang dibuka dengan indeks harga saham gabungan (IHSG) anjlok 598,56 poin (9,19%), ke 5.912,06, hingga akhirnya terkena trading halt pertama selama 30 menit. Pembekuan sementara perdagangan ini dilakukan oleh BEI setelah penurunan indeks melewati 8%, berdasarkan aturan baru yang dirilis sebelum bursa dibuka pagi tadi.
Sebelumnya, BEI tanggal 18 Maret 2025 juga melakukan trading halt sistem perdagangan pada pukul 11.19 WIB, berdasarkan aturan lama batas penurunan indeks 5%. Trading halt itu yang pertama terjadi di Indonesia sejak pandemi Covid-19 tahun 2020.
Setelah perdagangan Selasa kembali dibuka, hingga pukul 13.59 WIB, IHSG bergerak ke level 6.000,84. Indeks saham terpangkas 7,72%.
Baca JugaIndeks Dolar Melemah, Rupiah Anjlok Terendah Sepanjang Sejarah Rp 16.849/USD
Intervensi Sejak Senin
Sementara itu, meski masih hari libur, Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia melakukan rapat mendadak pada 7 April 2025. Rapat memutuskan untuk melakukan intervensi di pasar off-shore (Non Deliverable Forward/ NDF), guna stabilisasi nilai tukar rupiah dari tingginya tekanan global.
Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan, kebijakan tarif resiprokal yang diumumkan pemerintah AS tanggal 2 April 2025 dan direspons kebijakan retaliasi tarif oleh pemerintah Tiongkok tanggal 4 April 2025 telah menimbulkan gejolak pasar keuangan global. Ini termasuk arus modal keluar dan tingginya tekanan pelemahan nilai tukar mata uang di banyak negara, khususnya emerging markets.
"Tekanan terhadap nilai tukar rupiah telah terjadi di pasar off-shore, di tengah libur panjang pasar domestik dalam rangka Idulfitri 1446H. Intervensi di pasar off-shore dilakukan BI secara berkesinambungan di pasar New York AS, Asia, dan Eropa. BI juga akan melakukan intervensi secara agresif di pasar domestik sejak awal pembukaan tanggal 8 April 2025 dengan intervensi di pasar valas (spot dan DNDF) serta pembelian SBN (Surat Berharga Negara) di pasar sekunder," kata Denny.
Baca Juga
Selain itu, BI juga akan melakukan optimalisasi instrumen likuiditas rupiah untuk memastikan kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan domestik. Serangkaian langkah-langkah Bank Sentral ini ditujukan untuk menstabilkan nilai tukar rupiah serta menjaga kepercayaan pelaku pasar dan investor terhadap Indonesia.
Melemah terhadap Yen 11,8%
Selain terhadap euro dan dolar AS, sejak Selasa pagi, rupiah tercatat melemah terhadap hard currency yen Jepang. Hal ini seiring pelemahan indeks dolar AS.
Berdasarkan data Yahoo Finance, pada Selasa sejak pagi, indeks dolar AS masih bergerak melemah. DXY yang mencatat pergerakan hard currencies lain terhadap greenback ini melemah 0,33 poin atau 0,32% ke level 102,93 pada pagi hari.
Pada pukul 15.20 WIB, kurs rupiah tercatat Rp 114,54 per yen. Ini merosot dalam 2,5 poin atau 2,23% dalam sehari dan secara year to date sudah 11,8%.

