Hari Ini Mulai Perang Dagang, Rupiah Cetak Lagi Rekor Terburuk Rp 16.939/USD
JAKARTA, investortrust.id - Hari ini, 9 April 2025 waktu Amerika Serikat, tepat secara resmi dimulai perang dagang yang masih dieskalasi dengan tarif impor produk Cina dinaikkan hingga total 104%, lantaran RRT melakukan retaliasi menerapkan juga tarif resiprositas sama 34% atas produk Paman Sam. Rupiah dibuka mencetak lagi rekor terburuk Rp 16.939 per dolar AS berdasarkan data Yahoo Finance pada Rabu (09/04/2025) pukul 09.39 WIB, atau melemah 80 poin (0,47%).
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menuturkan, sesudah Cina melakukan retaliasi mengenakan tarif impor 34% atas produk Amerika Serikat, Presiden AS Donald Trump mengatakan akan menaikkan lagi tarif resiprositasnya untuk Tiongkok 50%. Jika tarif resiprositas atas RRT awalnya 34% kemudian ditambah 50%, maka hal itu akan melambungkan tarif impor yang sudah diberlakukan selama ini terhadap produk RRT 20%, sehingga totalnya naik lagi menjadi 104%.
Sementara, Cina mengumumkan akan mengenakan tarif resiprositas sebesar 34% kepada semua produk impor AS pada Jumat (04/04/2025), dua hari setelah pengumuman tarif resiprositas AS. Tarif ini akan berlaku pada 10 April 2025, atau sehari setelah AS efektif memberlakukan tarif resiprositasnya pada 9 April waktu setempat atau 13.01 WIB tanggal yang sama.
"Sentimen negatif datang dari keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang mengadakan tarif resiprositas terhadap barang-barang impor US. Hal ini juga membuat indeks utama bursa US ditutup melemah," kata analis pasar modal Reza Priyambada di Jakarta, Rabu (09/04/2025).
Baca Juga
Pada Rabu pagi ini, lanjut Direktur PT Reliance Sekuritas Tbk (RELI) itu, bursa Asia juga diperdagangkan melemah. Indeks Nikkei 225 Jepang melemah 3,32%. Demikian juga, indeks Kospi Korsel melemah 0,86%.
Rupiah Terus Tertekan
Baca Juga
Navigating a Fragmented World: Indonesia’s Role in the New Geopolitical Order
Trump menetapkan tarif dasar sebesar 10% untuk semua impor dari negara-negara lain dan tarif yang lebih tinggi untuk negara-negara tertentu seperti Cina (34% kemudian ditambah 50%), Vietnam (46%), Uni Eropa (20%), dan tak terkecuali Indonesia (32%). Hal ini telah memicu perang dagang global baru, di tengah kondisi perekonomian global yang masih suram dan tensi geopolitik tinggi.
Chief Economist PT Bank Permata Tbk Josua Pardede memprediksi pada perdagangan Rabu, kurs rupiah belum dapat melakukan rebound terhadap dolar AS. Terlebih Rabu ini waktu AS adalah dimulainya babak baru perang dagang dengan berlakunya secara efektif tarif impor resiprositas oleh Trump. Josua memprediksi pada perdagangan Rabu (09/04/2025), rupiah akan bergerak di kisaran Rp 16.825 - Rp 17.000 per dolar AS.
"Pada hari Rabu, rupiah diperkirakan masih akan di bawah bayang-bayang sentimen perang dagang, terutama karena besok secara resmi tarif yang diumumkan berlaku," kata Josua kepada Investortrust Selasa.
Adapun kurs rupiah ditutup anjlok dalam perdagangan Selasa (08/04/2025) atau di hari pertama efektifnya pasar domestik usai libur Lebaran 2025 M atau Idulfitri 1446 H. Berdasarkan data Jisdor Bank Indonesia (BI), kurs rupiah anjlok hingga 283 poin (1,70%) ke level Rp 16.849 per dolar AS.
Kondisi yang sama juga terlihat pada perdagangan di pasar spot valas kemarin. Berdasarkan data Yahoo Finance, kurs rupiah bergerak merosot hingga 306 poin (1,85%) ke level Rp 16.860 per dolar AS. Kurs rupiah berada di posisi Rp 16.554 per dolar AS, dalam perdagangan hari sebelumnya.
"Depresiasi nilai tukar rupiah didorong oleh sentimen dari perang dagang global, yang sudah mengemuka sejak 2 April yang lalu, di mana AS memberikan tarif resiprokal secara global. Sentimen perang dagang berlanjut akibat aksi balasan dari beberapa negara, termasuk Cina, yang kemudian dibalas oleh AS dengan mengancam memaikkan tarif 50% kepada produk Tiongkok. Aksi balas-balasan tersebut mendorong investor untuk mengalihkan asetnya ke aset yang lebih aman," ujar Josua.

