JAKARTA, investortrust.id - Konsumsi kedelai global meningkat dan mendorong pertumbuhan produksi. Pada musim 2023/2024, produksi kedelai global diperkirakan mencapai rekor 395 juta ton, meningkat 7% dari tahun sebelumnya, terutama didorong oleh hasil panen yang lebih besar di Amerika Selatan.
Konsumsi kedelai global pada periode yang sama diperkirakan mencapai 386 juta ton, meningkat dari 359 juta ton pada musim 2022/2023. Peningkatan konsumsi ini seiring permintaan yang terus tumbuh terutama untuk pakan ternak dan produk olahan kedelai lainnya.
Top 10 komoditas yang diimpor Indonesia dari AS tahun 2024 ()Source: BPS, Datatrust
Pada tahun 2023, Tiongkok mengimpor sekitar 99,41 juta ton kedelai. Sedangkan, konsumsi kedelai global pada periode yang sama diperkirakan mencapai 386 juta ton. Impor kedelai Tiongkok menyumbang sekitar 25,8% dari total konsumsi kedelai dunia pada tahun tersebut.
Sementara itu, pada tahun 2023, ekspor kedelai Amerika Serikat ke Tiongkok mengalami penurunan signifikan. Total ekspor kedelai AS ke Tiongkok pada tahun yang sama senilai US$ 12,84 miliar, menurun sekitar 27% dari tahun sebelumnya. Penurunan ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk produksi kedelai Brasil yang naik mencapai rekor tertinggi, yang meningkatkan persaingan di pasar global.
Secara volume, selama empat bulan pertama tahun pemasaran 2023/2024 (September hingga Desember 2023), ekspor kedelai AS ke Tiongkok turun 26% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, mencapai 528,7 juta bushel. Meski demikian, Tiongkok tetap menjadi pasar utama bagi kedelai AS, menyerap sekitar 63% dari total ekspor selama periode tersebut.
Brasil Pengekspor Terbesar
Pada tahun 2023, produksi kedelai global mencapai sekitar 398,2 juta metrik ton. Amerika Serikat menyumbang sekitar 28,5% dari total produksi tersebut, yaitu sekitar 113,3 juta metrik ton.
Namun, pangsa ekspor kedelai AS di pasar global telah mengalami penurunan dalam beberapa dekade terakhir. Pada tahun 1970-an, AS menguasai lebih dari 80% ekspor kedelai dunia, tetapi rata-rata selama lima tahun terakhir, pangsa tersebut turun menjadi 27%.
Penurunan ini terutama disebabkan oleh meningkatnya produksi dan ekspor dari negara lain, khususnya Brasil. Negeri Samba kini menjadi pengekspor kedelai terbesar, dengan pangsa ekspor global sekitar 55%.
Dominasi Brasil dan AS
Berdasarkan data produksi kedelai global, berikut adalah 10 negara produsen kedelai terbesar beserta perkiraan volume produksinya:
1. Brasil: 169 juta metrik ton (sekitar 40% dari produksi dunia),
2. Amerika Serikat: 118,84 juta metrik ton (28%),
3. Argentina: 49 juta metrik ton (12%),
4. Cina: 20,65 juta metrik ton (5%),
5. India: 12,58 juta metrik ton (3%),
6. Paraguay: 10,7 juta metrik ton (3%),
7. Kanada: 7,57 juta metrik ton (2%).
8. Rusia: 7,05 juta metrik ton (2%),
9. Ukraina: 7 juta metrik ton (2%),
10. Bolivia: 4,1 juta metrik ton (0,97%).
Data ini menunjukkan bahwa Brasil dan Amerika Serikat secara kolektif menyumbang sekitar 68% dari total produksi kedelai dunia. Hal itu menjadikan mereka dua produsen utama secara global.
Ketergantungan pada Pemasok Utama
Sementara itu, mengalihkan 100% impor kedelai Tiongkok dari Amerika Serikat ke negara lain merupakan tantangan yang kompleks. Hal ini juga tidak sepenuhnya praktis dalam jangka pendek.
Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan:
1. Ketergantungan pada Pemasok Utama:
• Tiongkok sangat bergantung pada Brasil dan AS untuk memenuhi kebutuhan kedelainya. Pada tahun 2023, Tiongkok mengimpor 69,95 juta ton kedelai dari Brasil, meningkat 28,6% dari tahun sebelumnya, sementara impor dari AS menurun 13% menjadi 24,17 juta ton.
2. Kapasitas Produksi dan Ekspor Negara Pemasok:
• Brasil: Sebagai pengekspor kedelai terbesar, Brasil telah meningkatkan produksinya secara signifikan. Namun, ekspansi lebih lanjut mungkin menghadapi tantangan, seperti keterbatasan lahan dan faktor lingkungan.
• Argentina: Meski juga merupakan pengekspor utama, kapasitas ekspor Argentina lebih kecil dibandingkan Brasil dan AS, sehingga sulit untuk sepenuhnya menggantikan peran AS dalam ekspor kedelai ke Tiongkok.
3. Diversifikasi Sumber Impor:
• Tiongkok telah berupaya mendiversifikasi sumber impornya dengan meningkatkan pembelian dari negara lain, seperti Kanada dan Rusia. Namun, kontribusi dari negara-negara ini masih relatif kecil dibandingkan dengan Brasil dan AS.
Presiden AS Donald Trump memperlihatkan daftar negara yang dikenakan tarif resiprositas di Rose Garden, Gedung Putih di Washington, DC, Amerika Serikat, Rabu (02/04/2025). Foto: Reuters/Carlos Barria.
4. Dinamika Pasar dan Hubungan Perdagangan:
• Faktor politik dan ekonomi, seperti perang dagang dan tarif, memengaruhi keputusan impor Tiongkok. Misalnya, pada Maret 2025, Tiongkok menaikkan tarif impor produk pertanian AS, sebagai respons terhadap tarif baru yang dikenakan oleh AS.
Sementara itu hingga kini, meski Tiongkok telah meningkatkan impor kedelai dari Brasil dan negara lain, sepenuhnya mengalihkan impor dari AS tidaklah mudah, karena keterbatasan kapasitas produksi dan faktor logistik. Oleh karenanya, dalam jangka pendek hingga menengah, AS kemungkinan tetap menjadi salah satu pemasok penting kedelai bagi Tiongkok. (pd)