Rupiah Melemah Balik Tembus Rp 16.430/USD
JAKARTA, investortrust.id - Kurs rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat dalam perdagangan Selasa (11/03/2025), di tengah kekhawatiran inflasi AS menunda penurunan suku bunga The Fed. Jisdor Bank Indonesia (BI) mencatat rupiah balik menembus level psikologis Rp 16.400 lebih per dolar AS. Kurs rupiah melemah signifikan 104 poin (0,63%) dan ditutup di Rp16.430 per dolar AS sore ini.
Pada perdagangan di pasar spot valas, berdasarkan data Yahoo Finance, mata uang Garuda bergerak melemah 65 poin (0,40%) ke level Rp 16.399 per dolar AS. Hari sebelumnya, kurs rupiah ditutup di level Rp 16.334 per dolar AS.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menuturkan, kebijakan proteksionis Presiden AS Donald Trump telah mengguncang pasar di seluruh dunia, dengan Trump memberlakukan dan kemudian menunda tarif impor pada pemasok minyak terbesar negaranya, yakni Kanada dan Meksiko. Trump juga menaikkan bea masuk atas barang-barang Cina.
"Cina dan Kanada telah menanggapi dengan tarif mereka sendiri. Selama akhir pekan, Trump mengatakan periode transisi bagi ekonomi kemungkinan besar terjadi, tetapi menolak untuk memprediksi apakah AS dapat menghadapi resesi di tengah kekhawatiran pasar saham tentang tindakan penaikan tarif impornya," ungkap Ibrahim dalam laporan tertulis, Jakarta, Selasa (11/03/2025).
Baca Juga
Bisnis Baru dan Buyback Obligasi Dongkrak Kinerja PGN (PGAS), Capex Rp 5 Triliun
Kekhawatiran Inflasi
Jajak pendapat Reuters menunjukkan bahwa risiko ekonomi meningkat untuk Meksiko, Kanada, dan AS, ketika bisnis dan pembuat kebijakan bergulat dengan ketidakpastian yang berasal dari implementasi kacau kebijakan tarif Trump. Kekhawatiran inflasi di AS -- yang sudah meningkat -- telah memburuk, sehingga semakin mungkin Federal Reserve akan menunda penyesuaian kebijakan dalam waktu dekat.
"Pada saat yang sama, survei menemukan kemungkinan resesi tumbuh di ketiga negara. Meski meningkatkan ketegangan perdagangan, Trump telah menghindari membuat prediksi tentang apakah AS dapat menghadapi resesi pada tahun 2025," ujar Ibrahim.
Baca Juga

