Bisnis Baru dan Buyback Obligasi Dongkrak Kinerja PGN (PGAS), Capex Rp 5 Triliun
JAKARTA, investortrust.id - PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) atau PGN melakukan buyback obligasi pada harga di bawah par atau lebih rendah dari nominal, tanpa menunggu surat utang jatuh tempo. Subholding Gas PT Pertamina (Persero) ini tidak perlu lagi dibebani pembayaran bunga, sehingga membantu mendongkrak kinerja keuangan.
Kinerja perusahaan juga lebih baik ditopang pengembangan bisnis baru. Perusahaan transmisi dan distribusi gas bumi terbesar di Indonesia ini tercatat sudah menjual Liquefied Natural Gas (LNG) kepada buyer internasional untuk pertama kalinya.
Selain kinerja keuangan PGN diperkirakan dapat mencapai Rencana Kerja Tahunan (RKT) 2024, pada tahun 2025, perusahaan pelat merah tersebut telah menyiapkan capex (belanja modal) US$ 338 juta untuk proyek infrastruktur strategis. Nilai capital expenditure itu mencapai Rp 5 triliun lebih, seiring optimisme bisnis gas bumi berprospek cerah, lantaran lebih murah dari energi fosil yang lain dan ramah lingkungan dengan emisi CO2 lebih rendah. Cadangan gas bumi di Indonesia juga masih besar sehingga tepat menjadi energi transisi menuju energi bersih.
“Terkait LNG, prospek di Indonesia sangat besar. Pipa gas kita kan dari Aceh sampai Jawa Timur. Yang Indonesia Timur belum ada pipa, mau nggak mau harus pakai LNG, CNG (compressed natural gas), atau bentuk lain yang beyond pipeline. Nah, prospek ke depan juga (meningkat pasokan), dan tahun 2030 mudah-mudahan insyaallah (Blok Migas) Masela onstream,” kata Direktur Utama PGN Arief Setiawan Handoko di Jakarta, Senin (10/03/2025).
Baca JugaFokus di Jawa dan Sumatera, PGN (PGAS) Targetkan 1 Juta Sambungan Jargas
LNG adalah gas alam yang didinginkan hingga berbentuk cair sehingga bisa diangkut dengan kapal. Arief mengatakan, untuk mendukung industri dalam negeri, pihaknya siap meningkatkan pasokan LNG. Di sisi lain, PGN juga terus mengembangkan jaringan gas (jargas) untuk rumah tangga hingga industri.
“Untuk kawasan industri yang membutuhkan LNG, silakan menghubungi PGN. Kami siap memasok,” ucapnya.
PGN juga sudah menandatangani memorandum of understanding (MoU) untuk mendapatkan pasokan gas dari Blok Kasuri di Papua. Blok ini dikelola oleh Genting Oil Kasuri Pte Ltd.
“Keminatan untuk mendapatkan LNG sudah, in fact sudah. Untuk Blok Andaman, PGN sebagai pembeli gas dan kami memiliki rencana besar yang semoga terwujud,” paparnya.
Direktur Utama PGN Arief Setiawan Handoko di Jakarta, Senin (10/03/2025). Video: Investortrust/Ester Nuky.
Hemat Puluhan Juta USD
Sementara itu, Direktur Keuangan PGN Fadjar Harianto Widodo mengatakan, buyback obligasi membuat perusahaan bisa banyak mendapat penghematan. “Pada saat jatuh tempo obligasi, bond kami hampir US$ 2 miliar. Jadi, kami secepatnya melakukan (pembayaran) kewajiban dulu, karena perusahaan harus sustain. Tidak perlu mewariskan (utang). Jika buyback berhematnya lumayan, mendapatkan puluhan juta dolar AS dari tidak perlu lagi membayar kewajiban bunga. Jadi, buyback saja, kalau ada uang pokoknya bayar saja,” paparnya.
Fadjar juga menjelaskan, kinerja keuangan perusahaan terutama ditopang layanan untuk industri. Ia pun optimistis kinerja keuangan PGN tahun 2024 lebih baik dan mencapai Rencana Kerja Tahunan.
Baca JugaGandeng NES, PGN Suplai LNG 700.000 MMBTU untuk Indonesia Tengah dan Tiimur
Sepanjang 2023, PGN mencatatkan laba bersih sebesar US$ 278,1 juta atau sekitar Rp 4,34 triliun. Ini dengan asumsi kurs saat itu sebesar Rp 15.600 per dolar AS.
Sementara itu, tahun 2024 hingga kuartal III, PGN sudah mengantongi laba bersih US$ 263,4 juta atau sekitar Rp 4,13 triliun, dengan asumsi kurs saat itu Rp 15.700 per dollar AS. Hal ini didukung pendapatan perusahaan yang mencapai US$ 2,8 miliar, tumbuh sekitar 5% dibanding periode yang sama tahun 2023.

