Asing Berbalik Beli Neto Rp 8,99 Triliun, Ada Apa?
JAKARTA, investortrust.id – Berdasarkan kondisi perekonomian global dan domestik terkini, Bank Indonesia menyampaikan perkembangan indikator stabilitas nilai rupiah pekan ini. Berdasarkan data transaksi 3 – 6 Maret 2025, non-resident mencatatkan beli neto sebesar Rp 8,99 triliun di pasar keuangan, berbalik arah dari pekan sebelumnya yang melakukan net sell jumbo di pasar saham, Surat Berharga Negara (SBN), maupun instrumen Bank Indonesia.
"Kami laporkan aliran modal asing minggu IV Februari 2025. Berdasarkan data transaksi 3 – 6 Maret 2025, non-resident tercatat beli neto sebesar Rp 8,99 triliun, yang terdiri dari beli neto Rp 0,34 triliun di pasar saham dan Rp 9,53 triliun di pasar SBN, serta jual neto Rp 0,88 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI)," kata Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan di Jakarta, 7 Maret 2025.
Hal ini berbalik arah dari pekan lalu. Berdasarkan data transaksi 24 – 27 Februari 2025 yang dilaporkan BI, non-resident tercatat jual neto sebesar Rp 10,33 triliun. Ini terdiri dari jual neto sebesar Rp 7,31 triliun di pasar saham, Rp 1,24 triliun di pasar SBN, dan Rp 1,78 triliun di SRBI.
Baca Juga
Selama tahun 2025, berdasarkan data setelmen hingga 6 Maret 2025, non-resident tercatat jual neto sebesar Rp 20,12 triliun di pasar saham. Namun, asing masih beli neto Rp 19,01 triliun di pasar SBN dan Rp 6,11 triliun di SRBI.
Aliran modal asing masuk itu seiring dengan tren penurunan indeks dolar Amerika Serikat, yang berdampak mendorong rupiah rebound. Nilai tukar rupiah pada akhir pekan lalu sempat anjlok ke titik terendah terhadap dolar AS sejak 2 April 2020, berdasarkan kurs Jisdor BI. Pada pada 28 Februari 2025, mata uang Garuda menembus level psikologis Rp 16.500 per dolar AS, tepatnya Rp 16.575 per dolar AS.
Bank Indonesia, lanjut Denny, terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia.
DXY Merosot
Denny merinci perkembangan nilai tukar rupiah 3 – 6 Maret 2025 dan indikator tekait. "Pada akhir hari Kamis, 6 Maret 2025, rupiah ditutup pada level (bid) Rp 16.325 per dolar AS dan yield SBN 10 tahun turun ke 6,85%. DXY (indeks dolar AS) melemah ke level 104,06. Yield UST (US Treasury) Note 10 tahun naik ke 4,278%," ujarnya.
DXY adalah indeks yang menunjukkan pergerakan dolar AS terhadap 6 mata uang negara utama lainnya, yakni euro (EUR), yen Jepang (JPY), pound sterling Inggris (GBP), dolar Kanada (CAD), krona Swedia (SEK), dan franc Swiss (CHF). Sedangkan UST Note merupakan surat utang negara yang dikeluarkan pemerintah AS dengan tenor 1-10 tahun.
Baca Juga
"Pada pagi hari Jumat, 7 Maret 2025, rupiah dibuka pada level (bid) Rp 16.320 per dolar AS. Yield SBN 10 tahun naik ke 6,87%," paparnya.
Sedangkan premi credit default swap (CDS) Indonesia 5 tahun per 6 Maret 2025 sebesar 76,28 bps, turun dibanding dengan 28 Februari 2025 sebesar 77,79 bps. CDS adalah sejenis perlindungan atau proteksi atas credit event (resiko kredit).

