Asing Berbalik Beli Neto Jumbo di Pasar Keuangan, Dampaknya?
JAKARTA, investortrust.id – Berdasarkan kondisi perekonomian global dan domestik terkini, Bank Indonesia menyampaikan perkembangan indikator stabilitas nilai rupiah pekan ini. Investor asing tercatat berbalik melakukan pembelian neto Rp 7,58 triliun di pasar keuangan sepekan. Lalu apa dampaknya?
"Kami laporkan aliran modal asing minggu III Februari 2025. Berdasarkan data transaksi 17 – 20 Februari 2025, non-resident tercatat beli neto sebesar Rp 7,58 triliun, terdiri dari jual neto sebesar Rp 0,46 triliun di pasar saham, beli neto sebesar Rp 6,96 triliun di pasar SBN (Surat Berharga Negara), dan Rp 1,08 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI)," kata Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan di Jakarta, 21 Februari 2025 malam.
Sebelumnya, pada minggu II Februari, berdasarkan data transaksi 10 – 13 Februari 2025, non-resident tercatat jual neto jumbo Rp 9,61 triliun. Ini terdiri dari jual neto Rp 2,42 triliun di pasar saham, Rp 2,51 triliun di pasar SBN, dan Rp 4,68 triliun di SRBI.
Selama tahun 2025, berdasarkan data setelmen hingga 20 Februari 2025, non-resident tercatat jual neto sebesar Rp 7,74 triliun di pasar saham. Namun, asing masih mencatatkan beli neto sebesar Rp18,99 triliun di pasar SBN dan Rp 3,23 triliun di SRBI year to date.
Rupiah Menguat
BI juga menyampaikan perkembangan nilai tukar 17 - 21 Februari 2025. Seiring net capital inflow jumbo, kurs rupiah pun menguat terhadap greenback, menjauh kembali dari level psikologis Rp 16.300 per dolar AS. Kurs mata uang Garuda sempat melemah menembus level psikologis tersebut selama dua hari, setelah Rapat Dewan Gubernur BI memutuskan menahan suku bunga acuan 5,75%.
"Pada akhir hari Kamis, 20 Februari 2025, rupiah ditutup pada level (bid) Rp 16.325 per dolar Amerika Serikat dan yield SBN 10 tahun naik ke 6,78%. (Dari eksternal) DXY atau indeks dolar AS melemah ke level 106,37 dan yield UST (US Treasury) Note 10 tahun naik ke 4,505%," ujar Denny.
Baca Juga
Indeks dolar AS menunjukkan pergerakan dolar terhadap 6 mata uang negara utama lainnya, yakni euro (EUR), yen Jepang (JPY), pound sterling Inggris (GBP), dolar Kanada (CAD), krona Swedia (SEK), dan franc Swiss (CHF). Sedangkan UST Note merupakan surat utang negara yang dikeluarkan pemerintah AS dengan tenor 1-10 tahun.
"Pada pagi hari Jumat, 21 Februari 2025, rupiah dibuka (menguat) pada level bid Rp 16.280 per dolar AS. Yield SBN 10 tahun juga turun di 6,75%," paparnya.
Sementara itu, premi credit default swap (CDS) Indonesia 5 tahun per 20 Februari 2025 tercatat sebesar 69,66 bps. Ini naik dibanding dengan 14 Februari 2025 sebesar 68,97 bps. CDS adalah sejenis perlindungan atau proteksi atas credit event (resiko kredit).
"Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait, serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia," ujarnya.
Sementara itu, seiring penguatan kembali rupiah, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia rebound. BEI mencatat indeks saham ditutup menguat 0,22% ke 6.803 Jumat (21/02/2025) sore.
Baca Juga

