Cara Efektif Membalas Perang Tarif Trump
Oleh Tri Winarno,
mantan Ekonom Senior
Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter
Bank Indonesia
INVESTORTRUST.ID - Melalui serangkaian perintah eksekutif, Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah menghabiskan minggu-minggu pertamanya menjabat dengan mencoba membongkar tatanan internasional, yang turut diciptakan AS setelah Perang Dunia II. Di bawah panji "America First," pemerintahannya telah menarik diri dari perjanjian iklim Paris, Organisasi Kesehatan Dunia, dan Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Dan sekarang, pemerintahannya siap melangkah lebih jauh. Tinjauan menyeluruh terhadap semua organisasi multilateral sedang dilakukan, untuk menentukan apakah negara adidaya itu tetap tinggal atau pergi.
Trump juga bertekad untuk mengubah sistem perdagangan internasional. Kurang dari dua minggu setelah menjabat, ia mengumumkan tarif yang tinggi: 25% untuk impor dari Kanada dan Meksiko, dan 10% untuk impor dari Tiongkok, di atas pungutan yang sudah berlaku.
Baca Juga
Pertanian-Otomotif Meksiko Terpukul
Sejak memberi Kanada dan Meksiko penangguhan selama satu bulan pada awal Februari, Trump telah mengisyaratkan bahwa tarif itu akan diterapkan, meski tampaknya dengan penundaan selama sebulan lagi. Ia juga telah mengumumkan tarif sebesar 25% untuk semua impor baja dan aluminium, dan mengisyaratkan pungutan tambahan atas mobil, produk farmasi, dan chip komputer.
Eropa juga dapat segera menjadi sasaran dalam waktu dekat. Keputusan Trump memberlakukan bea masuk 25% terhadap baja dan aluminium impor saat memasuki AS tanpa mempertimbangkan negara asalnya, memicu kecaman keras di seluruh Benua Biru.
Konsekuensi perang dagang yang tampak ingin dipicu Trump bisa jadi parah, dan bukan hanya karena besarnya volume perdagangan yang dipertaruhkan. Pasalnya, rantai pasokan saat ini terintegrasi secara mendalam lintasbatas, mencakup sekitar 50% dari perdagangan intraregional. Dalam banyak kasus, komponen suatu barang melintasi batas beberapa kali sebelum perakitan akhir jadi membayar tarif 25% setiap kali input melintasi batasnegara, yang akan dengan cepat menaikkan biaya.
Baca Juga
SWF Juga Dana untuk Pembangunan Pangan, Tak Sekadar Bangun Infrastruktur
Pertimbangkan dampaknya bagi Meksiko, yang telah melampaui Cina sebagai mitra dagang terbesar Amerika dalam hal perdagangan barang. Selain mengganggu pasokan alpukat Meksiko (contoh yang terkenal), tarif akan berdampak serius pada sektor pertanian yang memasok 63% impor sayuran AS dan 47% impor buah serta produk kacang-kacangan.
Industri otomotif – salah satu sektor ekonomi utama Meksiko, yang mempekerjakan lebih dari satu juta orang dan menyumbang sekitar 5% produk domestik bruto (PDB) – juga akan mengalami pukulan berat. Laporan S&P Global baru-baru ini menunjukkan Meksiko kini menjadi sumber impor kendaraan ringan AS terbesar, melampaui Jepang, Korea Selatan, dan Eropa.
Nissan, misalnya, memperoleh 27% penjualannya di AS dari Meksiko. Sementara Honda memperoleh hampir 13% dan Volkswagen 43%.
Titik Lemah AS
Lalu, apa yang harus dilakukan Meksiko? Ketika Trump mengenakan tarif pada negara-negara tetangga Amerika pada tahun 2018, otoritas Meksiko menanggapinya secara strategis, dengan menargetkan produk-produk dari negara-negara bagian AS yang signifikan secara politik, mengenakan tarif pada apel, bourbon, keju, cranberry, daging babi, dan kentang. Namun pendekatan ini memiliki keterbatasan, terutama mengingat besarnya ukuran ekonomi AS dibandingkan dengan negara-negara tetangganya.
Namun, Meksiko, Kanada, dan Eropa juga memiliki pengaruh. Ini terkait dengan titik lemah Amerika adalah oligarki yang sangat terinternasionalisasi: yakni sekelompok kecil individu yang sangat kaya, yang kekayaannya bergantung pada akses ke pasar global. Kerentanan ini memberi pengaruh pada pemerintah asing.
Tindakan balasan yang paling efektif, sederhana saja: tarif untuk para oligarki. Negara-negara harus mengikat akses pasar bagi perusahaan multinasional dan miliarder asing, dengan perpajakan yang adil. Begitu Trump memberlakukan tarif terhadap Kanada dan Meksiko, negara-negara tersebut harus membalas dengan mengenakan pajak signifikan kepada para oligarki AS.
Dengan kata lain, jika Tesla ingin menjual mobil di Kanada dan Meksiko, Elon Musk – pemegang saham utama Tesla – harus diwajibkan membayar pajak di wilayah hukum tersebut. CEO Tesla Inc dan SpaceX yang merupakan orang terkaya di dunia itu kini diangkat Trump menjadi Kepala Departemen Efisiensi AS.
Tentu saja, strategi ini secara eksplisit bersifat ekstrateritorial, karena menerapkan kewajiban pajak pada pelaku asing sebagai imbalan atas akses ke pasar lokal. Namun, alih-alih takut akan ekstrateritorialitas, kita harus menerimanya sebagai alat untuk menegakkan standar minimum, mengekang ketimpangan, mencegah penghindaran pajak, dan mempromosikan pembangunan ekonomi yang keberlanjutan.
Pajak Oligarki, Siklus Baik
Tidak seperti tarif tradisional, pajak oligarki menargetkan mereka yang paling diuntungkan dari globalisasi: para miliarder dan perusahaan yang mereka kendalikan. Pajak ini mengubah konflik ekonomi dari pertikaian antarnegara – yang memicu ketegangan nasionalis dan pembalasan ekonomi – menjadi pertikaian antara konsumen dan oligarki.
Lebih jauh, pendekatan ini dapat memicu siklus yang baik. Negara-negara dengan pasar konsumen utama dapat memungut pajak yang selama ini dihindari oleh perusahaan multinasional di tempat lain, yang secara bertahap mengikis daya tarik persaingan pajak. Akan menjadi sia-sia bagi perusahaan atau individu untuk pindah ke negara-negara dengan pajak rendah, karena penghematan akan diimbangi oleh pajak yang lebih tinggi yang harus dibayarkan di negara-negara dengan pasar konsumen yang besar. Perlombaan menuju ke negara pembayar pajak lebih bawah akan segera digantikan oleh perlombaan menuju negara dengan pembayar pajak lebih atas, yang memiliki pasar besar.
Artinya, kembalinya Trump ke Gedung Putih membawa implikasi yang mengkhawatirkan, namun juga menghadirkan sebuah peluang. Inilah saatnya untuk memikirkan kembali hubungan ekonomi internasional, dengan tenang namun radikal!
Respons terbaik adalah kerangka ekonomi global baru yang menetralkan persaingan pajak, memerangi ketimpangan, dan melindungi planet kita. Di bawah kerangka tersebut, negara-negara pengimpor akan menegakkan keadilan pajak di luar batas negara mereka, memastikan bahwa perusahaan multinasional dan pemilik miliarder mereka membayar bagian yang lebih adil.
Jika Trump menginginkan perang dagang, konsumen di Meksiko, Kanada, Eropa, dan negara-negara lain harus bersatu untuk memastikan Musk dan rekan-rekan oligarkinya merasakan dampaknya. Yaitu, dengan cara menaikkan pajak dari produk impor yang dimiliki para oligarki AS.
Begitu pula, Indonesia harus siap-siap melakukan langkah strategis bila menghadapi ancaman tarif Trump. Indonesia harus segera melakukan kerja sama strategis dengan negara-negara lain yang merasa dirugikan oleh kebijakan tarif Trump. Untuk itu, Indonesia harus mulai menginisiasi diplomasi di negara negara ASEAN, baru kemudian melebar ke ASEAN Plus 3 dan seterusnya.
Jakarta, 6 Maret 2025

