Asing Berbalik Jual Neto Jumbo, Cek Ada Apa?
JAKARTA, investortrust.id – Berdasarkan kondisi perekonomian global dan domestik terkini, Bank Indonesia menyampaikan perkembangan indikator stabilitas nilai rupiah. Investor asing tercatat berbalik melakukan jual neto jumbo di pasar keuangan pada pekan ini, baik di pasar saham, Surat Berharga Negara (SBN), maupun instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
"Kami laporkan aliran modal asing minggu II Maret 2025. Berdasarkan data transaksi 10 – 13 Maret 2025, non-resident tercatat jual neto sebesar Rp 10,15 triliun. Ini terdiri dari jual neto Rp 1,92 triliun di pasar saham, Rp 5,25 triliun di pasar SBN, dan Rp 2,97 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI)," kata Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan di Jakarta, 14 Maret 2025 malam.
Pada periode laporan yang sama sepekan sebelumnya, berdasarkan transaksi 3 – 6 Maret 2025, non-resident mencatatkan beli neto sebesar Rp 8,99 triliun di pasar keuangan, yang terdiri dari beli neto Rp 0,34 triliun di pasar saham dan Rp 9,53 triliun di pasar SBN, serta jual neto Rp 0,88 triliun di SRBI. Hal ini berbalik arah dari pekan sebelumnya, di mana pemodal asing melakukan net sell jumbo di pasar saham, SBN, maupun instrumen Bank Indonesia SRBI.
Selama tahun 2025, kata Denny, berdasarkan data setelmen hingga 13 Maret 2025, non-resident tercatat jual neto sebesar Rp 22,21 triliun di pasar saham. Namun, masih membukukan beli neto Rp 18,35 triliun di pasar SBN.
Pemodal asing juga masih membukukan beli neto Rp 6,55 triliun di SRBI year to date, hingga 13 Maret 2025.
Baca Juga
Senator Setujui RUU Bitcoin Act: AS Jadikan BTC Cadangan Nasional
Yield UST Note dan DXY Turun
Denny juga menjelaskan perkembangan nilai tukar 10 - 14 Maret 2025. "Pada akhir hari Kamis, 13 Maret 2025, rupiah ditutup pada level (bid) Rp 16.420 per dolar AS dan yield SBN 10 tahun naik ke 6,93%. Sedangkan DXY (indeks dolar Amerika Serikat) melemah ke level 103,83 dan yield UST (US Treasury) Note 10 tahun turun ke 4,268%," ujarnya.
DXY adalah indeks yang menunjukkan pergerakan dolar AS terhadap 6 mata uang negara utama lainnya, yakni euro (EUR), yen Jepang (JPY), pound sterling Inggris (GBP), dolar Kanada (CAD), krona Swedia (SEK), dan franc Swiss (CHF). Sedangkan UST Note merupakan surat utang negara yang dikeluarkan pemerintah AS dengan tenor 1-10 tahun.
"Pada pagi hari Jumat, 14 Maret 2025, rupiah dibuka pada level (bid) Rp16.350 per dolar AS. Sedangkan yield SBN 10 tahun turun ke 6,87%," ucapnya.
Sementara itu, premi credit default swap (CDS) Indonesia 5 tahun per 13 Maret 2025 sebesar 80,07 bps. Ini naik dibanding pada 7 Maret 2025 sebesar 76,11 bps. CDS adalah sejenis perlindungan atau proteksi atas credit event (resiko kredit).
Sentimen Negatif Dalam Negeri
Meski yield UST Note 10 tahun maupun indeks dolar AS turun, asing justru melakukan aksi jual. Hal ini, antara lain, dipengaruhi kondisi yang tidak kondusif di dalam negeri.
Di luar kebiasaan selama ini, realisasi APBN 2025 dalam dua bulan pertama sudah mengalami defisit Rp 31,2 triliun. Padahal, pada periode sama 2024 masih mencatatkan surplus Rp 26 triliun.
Baca JugaHari Ini, Mahasiswi Indonesia Annabel Gelar Pameran Seni di London
"Realisasi pendapatan negara hingga Februari 2025 mencapai Rp 316,9 triliun, sedangkan belanja negara hingga Februari 2025 sebesar Rp 348,1 triliun. APBN 2025 hingga akhir Februari mengalami defisit Rp 31,2 triliun," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Jakarta, pekan ini.
Maraknya pemutusan hubungan kerja, berkurangnya jumlah kelas menengah, dan turunnya daya beli masyarakat terkonfirmasi pada perkembangan penerimaan pajak yang sangat memprihatinkan. Penerimaan pajak tercatat hanya sebesar Rp 187,8 triliun, merosot dalam 30,2% dibanding dua bulan pertama tahun lalu Rp 269 triliun.
Akibatnya, realisasi pendapatan negara hingga Februari 2025 merosot 20,85% ke Rp 316,9 triliun, sehingga menjadi lebih rendah dari realisasi belanja negara. Sementara, dua bulan pertama tahun lalu, realisasi pendapatan NKRI masih Rp 400,4 triliun.
Dampaknya, belanja kementerian/lembaga (K/L) anjlok ke Rp 83,6 triliun. Jika dibandingkan dengan kondisi tahun lalu, angka ini merosot 30,34%, mengingat belanja K/L Januari-29 Februari 2024 mencapai Rp 120 triliun.
Komoditas Turun, Deviden BUMN Ditarik Duluan
Tidak hanya penerimaan pajak yang turun, realisasi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) juga merosot. Kontraksi dalam perolehan PNBP ini terjadi karena harga komoditas melemah. Oleh karena itu, pemerintah meningkatkan setoran dividen interim dari BUMN perbankan.
"Realisasi PNBP hingga Februari 2025 masih ditopang Kekayaan Negara Dipisahkan (KND). KND tumbuh 60,7% karena peningkatan setoran dividen interim dari BUMN perbankan. KND khususnya setoran dari dividen BUMN sudah kita tarik Rp 10,9 triliun,” kata Wakil Menteri Keuangan Anggito Abimanyu saat konferensi pers APBN Kita, di kantornya, Jakarta, Kamis (13/03/2025).
Realisasi PNBP hingga 28 Februari 2025 tercatat senilai Rp 76,4 triliun. Angka ini berada di bawah kinerja Januari-Februari tahun lalu yang mencapai Rp 80 triliun.
Di tengah kemerosotan tax ratio ini, Kemenkeu juga menciptakan kontroversi yang banyak dikeluhkan berbagai kalangan. Banyak pengusaha dikabarkan kesulitan menggunakan sistem administrasi pajak yang baru Coretax, meski biaya pembuatannya mencapai triliunan rupiah dengan melibatkan banyak perusahaan asing. Kesulitan ini berlawanan dengan janji semula dan sangat kontraproduktif dengan target Presiden Prabowo Subianto meningkatkan tax ratio.
Belum lagi kontroversi yang ditimbulkan lantaran Menkeu menunda pengumuman APBN Kita yang sudah rutin digelar sebagai laporan transparansi bulanan.

