Aturan Baru DHE SDA Berlaku, Rupiah Ditutup Rebound
JAKARTA, investortrust.id - Kurs rupiah ditutup rebound terhadap dolar Amerika Serikat dalam perdagangan valas, Senin (03/03/2025). Penguatan rupiah ini bersamaan dengan mulai diberlakukannya peraturan perpanjangan kewajiban penyimpanan devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA) di dalam negeri.
Jisdor Bank Indonesia (BI) mencatat, mata uang rupiah ditutup menguat 69 poin (0,41%) ke level Rp 16.506 per dolar AS. Mata uang Garuda sebelumnya ditutup pada posisi Rp 16.575 per dolar AS, Jumat (28/02/2025) lalu.
Baca Juga
Sementara pada perdagangan di pasar spot valas yang dilansir Yahoo Finance, mata uang rupiah bergerak menguat, keluar dari kisaran Rp 16.500 per dolar AS. Kurs rupiah bergerak menguat signifikan 99 poin (0,60%) ke level Rp 16.475 per dolar AS. Adapun dalam penutupan perdagangan terakhir sebelumnya, Yahoo Finance merilis rupiah berada di Rp 16.574 per dolar AS.
Menurut pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, penguatan rupiah yang signifikan sepanjang hari ini tidak lepas dari aturan soal devisa hasil ekspor sumber daya alam. Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 8 Tahun 2025 sebagai Perubahan atas Peraturan Pemerintah 36 Tahun 2023 tentang Devisa Hasil Ekspor dari Kegiatan Pengusahaan, Pengelolaan, dan/atau Pengolahan Sumber Daya Alam ini merupakan langkah optimalisasi pengelolaan DHE SDA agar kian meningkat kontribusinya bagi perekonomian nasional.
"Aturan ini mulai berlaku pada 1 Maret 2025. Dalam aturan itu, eksportir diwajibkan menyimpan 100% DHE SDA di dalam negeri selama satu tahun. Aturan baru ini dimaksudkan agar DHE SDA yang masuk bisa memperkuat cadangan devisa Indonesia di tengah gejolak pasar saat ini," kata Ibrahim dalam keterangan tertulis, Senin (03/03/2025).
PMI manufaktur Naik
Selain itu, sektor manufaktur Indonesia mengalami pertumbuhan signifikan pada Februari 2025. Hal ini didorong oleh meningkatnya permintaan domestik dan optimisme produsen.
Berdasarkan laporan S&P Global, Purchasing Manager’s Index (PMI) Manufaktur Indonesia mencapai 53,6. Ini naik dari 51,9 pada Januari 2025.
Baca Juga
IHSG Ditutup Naik Nyaris 4%, Saham-Saham Big Cap Ini Cuan Melimpah Dipimpin BBRI
Kenaikan ini mencerminkan perbaikan yang signifikan dalam kesehatan sektor produksi barang. Peningkatan permintaan baru yang mencapai level tertinggi dalam hampir satu tahun menjadi faktor utama pendorong pertumbuhan. Selain itu, aktivitas pembelian dan ketenagakerjaan juga mencatat pertumbuhan yang signifikan.
Secara bersamaan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Februari terjadi deflasi 0,48% secara bulanan (month to month/mtm). Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, terjadi penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 105,99 pada Januari 2025, menjadi 105,48 pada Februari 2025.
Sedangkan dari sentimen global, investor dengan hati-hati menunggu keputusan tarif perdagangan Presiden AS Donald Trump yang akan dirilis minggu ini, tetapi ketidakpastian atas tarif tersebut mengisyaratkan kemungkinan tindakan yang lebih lunak. Suasana hati investor juga suram setelah Trump mengumumkan tarif tambahan 10% untuk Tiongkok dan menegaskan kembali jadwal tarifnya untuk pungutan 25% untuk Meksiko dan Kanada.
"Namun, pada hari Minggu, Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick mengatakan bahwa Trump akan menentukan tingkat tarif yang tepat pada hari Selasa, yang mengindikasikan ada kelonggaran untuk pungutan yang kurang agresif," lanjut Ibrahim.

